Masyarakat Dihantui PMK ('Penyakit Menjelang Kurban')

KBRN, Yogyakarta : Perayaan Idul Adha pada tahun ini disambut dengan berita merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak seperti sapi dan kambing di berbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan data situs siagapmk.id, per 5 Juli tercatat sebanyak 318.628 hewan ternak di sekitar 21 provinsi yang ada di Indonesia telah terpapar penyakit mulut dan kuku.

Dari sudut pandang para penjual hewan ternak, penyakit ini tentu saja berdampak secara signifikan pada faktor produksi. Yang memperparah situasi ini adalah kondisi pasar yang sedang membutuhkan banyak pasokan daging menjelang Idul Adha 1443 Hijriyah, akan tetapi pasokan semakin menipis utamanya karena wabah PMK ini.

Untuk mengetahui seberapa jauh fenomena ini mempengaruhi minat kurban masyarakat khususnya di wilayah Moyudan, Sleman, rri.co.id menemui Atang Basuki, seorang Ketua Takmir di daerah Moyudan.

“Tentu saja akan berpengaruh pada posisi harga, tetapi antusias untuk berkurban itu kan sudah diniatkan, mereka tidak terpengaruh oleh PMK nya. Soal harga kan mereka sudah menyiapkan diri,” ucap Atang.

Ia menambahkan, kenaikan harga ini dikarenakan terdapat penambahan prosedur yang dilakukan demi menjaga kualitas dan kesehatan dari hewan yang akan dikurbankan.

“Terkait kualitas hewan, kita agak hati-hati, saya sudah kontak langganan kita untuk hewan itu yang akan kita jadikan kurban bener-bener hewan yang sudah punya surat keterangan kesehatan hewan (skkh) dan itu dipenuhi, memang langganan saya bersertifikat dan ada dokter yang secara berkala menengok dan dibuktikan oleh surat,” tuturnya, Selasa (5/7/2022).

“Maka harapannya hewan yang dijadikan kurban benar-benar hewan yang sehat, bersertifikat dan sudah melalui screening dokter layak untuk kita konsumsi,” lanjutnya. (stevanus-nabila).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar