Kasus Gagal Bayar KSP SB, Rusak Citra Koperasi

KBRN, Yogyakarta : Kasus gagal bayar Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera Bersama (KSP-SB) dikhawatirkan membuat kepercayaan masyarakat pada koperasi turun.

Apalagi, meski total kerugian dari sekitar 58 ribu nasabah mencapai Rp 8,878 triliun, pemerintah tidak kunjung memberi respon.

Ketua Forum Komunikasi Anggota KSP-SB, Rahmad Raja Jaya mengungkapkan, gagal bayar terjadi pada produk Simpanan Berjangka Sejahtera Prima (SB-SP) yang sudah jatuh tempo beserta imbal jasanya.

Kondisi itu mulai terjadi sejak April 2020.

"Dari laporan keuangan rapat anggota tahunan (RAT) KSP-SB pada  2019 jumlah nasabah 173 ribu. Tapi pada RAT 2020, dilaporkan ada 180 ribu nasabah. Artinya ada penambahan tujuh ribu nasabah baru. Harusnya Kementrian Koperasi aware, operasional KSP-SB di-stop dulu, ini sampai sekarang masih beroperasi,” kata Rahmad Raja Jaya, di Yogyakarta, Rabu, (20/10/2021).

Raja menambahkan total kerugian, berdasarkan gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) total kreditur 58.825 dengan toal tagihan Rp8,878 triliun.

Namun, dalam RAT Tutup Tahun Buku 2020 yang disahkan Juni 2021 total anggota ada 181.072 orang dengan total aset Rp 2,35 triliun.

”Sepertinya ada indikasi manipulasi data keuangan karena terjadi perbedaan yang mencolok,” terang nasabah KSP-SB asal Bogor ini.

Yang membuatnya kecewa, tiga surat yang dilayangkan ke Kementrian Koperasi tak pernah dibalas.

Bahkan koperasi tersebut mendapat penghargaan dari Kemenkop RI.

Para nasabah pun telah mengirimkan surat ke Presiden Jokowi, ditanggapi kantor staf kepresidenan, dan diadakan pertemuan via zoom meeting.

Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan nasabah asal Semarang, Frans Hartono menyebut kasus KSP-SB ini jadi preseden buruk bagi dunia koperasi di Indonesia.

Jika dibiarkan tanpa solusi, kepercayaan masyarakat kepada koperasi akan semakin memburuk.

Apalagi selama pandemi ini banyak dana di koperasi yang ditarik nasabah.

“Dari safari ke beberapa daerah korban KSP-SB, rata-rata sudah antipati pada koperasi,” katanya.

Salah satu nasabah, Yekti Hasanah mengaku tak tahu bagaimana dia bisa menyetorkan uangnya hingga Rp 5,7 miliar ke KSP-SB.

Sejak 2004 hingga 2020 lalu dirinya rutin menabung di sana. Meski sebagai alumnus fakultas ekonomi salah satu universitas swasta di DIY, dia tahu bunga yang ditawarkan, hingga 13 persen tak masuk akal.

“Seperti dihipnotis aja, aslinya saya tak percaya bunga tinggi, itu pasti skema Ponzi,” katanya dalam pertemuan nasabah KSP-SB di Yogyakarta, Rabu (20/10/2021).

Awalnya, Yekti bersama suaminya Zaini, diajak oleh marketing KSP-SB, yang merupakan murid ngajinya di Samirono, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Selain tawaran bunga tinggi, sodoran berbagai penghargaan KSP-SB, yang berkantor pusat di Bogor, itu juga membuatnya tertarik.

Hingga akhirnya dia mulai sadar. Pada 2019 mulai menarik dananya. Namun, baru bisa dicairkan Rp 4,4 miliar. Sedangkan sisanya mulai sulit dicairkan sejak Juni 2020.

Ironisnya, sebagai nasabah, Yekti justru dilaporkan KSP-SB ke pengadilan,  karena dianggap merugikan.

Laporan pengadilan itu dilakukan setelah Yekti melaporkan KSP-SB ke Polres Sleman pada Desember 2020 lalu. Yekti sudah menjalani sidang perdana di PN Sleman pada 4 Oktober lalu.

“Saya merugikan apa, kan saya yang dirugikan. Ada tindak pidana, saya dibohongi, tabungan didebet sepihak sehingga tinggal Rp 20 ribu,” kata Yekti.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00