Harga Telur dan Daging Ayam Lampaui HET

Yanto Apriyanto

KBRN, Yogyakarta : Menjelang Ramadan harga telur dan daging ayam di pasar tradisional di Yogyakarta terus naik.

Pedagang daging ayam di Pasar Beringharjo Yogyakarta, Suharti mengatakan, harga daging ayam terus naik sejak seminggu ini, kini mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.

"Naik terus semingguan ini. Dari 35 terus 38 sekarang 40.000 per kilogramnya. Permintaannya sih biasa, malah cenderung sepi, tapi katanya stoknya menipis. Kata supplier saya loh ya," jelas Suharti, di Pasar Beringharjo, Sabtu, (10/4/2021).

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Anton Apriyanto membenarkan adanya kenaikan harga daging ayam segar dan telur menjelang ramadhan ini.

"Harga daging ayam di kisaran 38-40 ribu per kilogram, di atas HET ya, HET nya cuma 35 ribu per kilogram, dan telur 25 - 26 ribu per kilogram, HET nya cuma 24 ribu per kilogramnya," jelasnya.

Kenaikan harga diperkirakan karena peningkatan permintaan masyarakat untuk nyadran menjelang ramadhan, serta adanya program bansos PKH.

"Kalau di Yogya itu kan ada budaya nyadran ya, selain itu, kan penerima bansos itu wajib untuk dibelikan beras, telur dan daging ayam. Jadi permintaannya naik," urainya.

Di sisi lain, perdagangan ayam dan telur di pasar tradisional tidak sistem kontrak harga, sehingga harga dinamis.

"Kalau pedagang kan biasanya ambil dari petani mandiri. Sedangkan kalau supermarket itu dia ada kontrak kerja dengan perusahaan besar begitu. Jadi harga ada selisih di pasar dan supermarket. Saya harapkan dinas perdagangan atau dinas pasar fasilitasi pedagang kerjasama dengan kelompok pengusaha pemotong ayam pakai kontrak kerja jadi harga stabil. Karena kalau perorangan seperti sekarang ini, harganya melihat perkembangan pasar. Di sisi lain memang daging ayamnya benar-benar segar baru potong ya kalau pedagang di pasar tradisional itu. Kalau yang di supermarket kerjasama kontrak perusahaan itu, daging ayam frozen. Perusahaan pemotongan kan, begitu potong langsung frozen," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI Kanwil IV, Dendy R Sutrisno usai pemantauan harga dan ketersediaan stok bahan pokok di Pasar Bringharjo mengatakan kenaikan harga telur dan daging ayam dikarenakan para pedagang menggunakan sistem jual putus, tanpa kontrak.

"Mereka rata-rata jual putus. Jadi harga dinamis. Belum ada kontrak seperti toko modern," katanya.

Untuk itu, KPPU mendorong optimalisasi koperasi pedagang pasar dan pembinaan pemda agar pengelolaan pasar tradisional lebih modern, sehingga mendukung stabilisasi harga.

"Nah dulu katanya sudah ada koperasi. Itu bisa diaktifkan lagi tidak hanya simpan pinjam, tapi penguasaan manajerial pengelolaan menjadi seperti pasar modern. Misalnya pasar modern itu ramadan ada diskon, pasar tradisional tidak ada model begitu, ini butuh dukungan pemda, dan juga kaum millenial ya," jelasnya.

Disisi lain, sudah banyak pedagang yang mengikuti perkembangan teknologi dan sistem penjualan yang baik.

"Sudah banyak pakai pembayaran digital, sudah ada juga yang pakai banyak supplier jadi tidak ketergantungan ke satu supplier, ini bagus, jadi stok lancar harga terkendali. Ini ke depan jangka panjang, pasar beringharjo bisa jadi percontohan Pasar Tradisional yang menjadi garda terdepan stabilisasi harga.

Apalagi juga ada kios 'segoro amarto' yang menjual produk kebutuhan pokok beras gula minyak dengan harga dibawah HET, sehingga bisa mengendalikan harga," urainya. (wur/ian/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00