Artidjo Alkostar, Selalu Bawa Televisi Saat Mengajar di Kelas

Eko Prasetyo, penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah

KBRN, Yogyakarta : Penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah, yakni Eko Prasetyo, melihat sosok Almarhum Artidjo Alkostar sebagai pribadi yang unik.

Ada kenangan yang masih lekat di pikiranya hingga kini. Yaitu tidak ada ceramah di kelas, ketika Bang Ar sapaan akrab Artidjo mengajar mahasiswa hukum Universitas Islam Indonesia (UII).

Antara tahun 1991 sampai 1997, Eko yang juga pendiri Social Movement Institute (SMI) ini, menjadi salah satu mahasiswanya.

”Selalu membawa televisi, dibawakan oleh staffnya, lalu dia muterin film biasanya,” kenangnya, saat ditemui di Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang, Senin (1/3/2021).

Selama menjadi mahasiswa, ia belum pernah bertemu satupun dosen, yang mengajak anak didiknya menonton televisi di kelas. Cara yang dilakukan Artidjo dalam mentransfer ilmu, betul-betul berbeda dari kebanyakan pengajar waktu itu.

Namun, film-film yang diputar bukan sembarang film, rata-rata mengisahkan tentang persoalan hukum, yang dibuat berdasarkan tulisan John Grisham, seorang novelis sekaligus mantan politikus dan pensiunan pengacara dari Amerika Serikat.

Tidak hanya film, Almarhum Artidjo juga suka membaca novel, bahkan ia juga sering dipinjami koleksi novelnya.

”Koleksi bukunya memang sangat banyak,” imbuh Koordinator Relawan Amnesty International Yogyakarta ini.

Sejumlah pelayat mengabadikan baliho bergambar foto Artidjo Alkostar yang terpajang di Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Yogyakarta

Eko pun menceritakan pengalaman lucu, saat berinteraksi dengan mantan dosennya itu.

Ketika rezim Soeharto berkuasa, Artidjo justru memintanya ikut demonstrasi bersama mahasiswa lain, untuk menentang penguasa yang lalim terhadap rakyat.

Disaat ia rajin datang ke kampus untuk masuk kuliah, justru dimarahi karena tidak ikut bergerak turun ke jalan.

”Ngapain masuk terus kamu, ada banyak persoalan sosial kamu terlibatlah,” ucap Eko menirukan perkataan Artidjo kala itu.

”Saya rasa dia dosen yang sangat provokatif dan mendorong mahasiswa untuk bergerak, kalau kita asal absen lalu kita demo, dia bilang oke nggak apa-apa,” imbuhnya.

Pernah pada tahun 1996, Eko Prasetyo menjadi Sekjend Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Saat itu, tidak ada jaminan perlindungan sama sekali, bagi yang menentang penguasa orde baru.

”Bang Ar yang memback up saya, dia yang membantu dan melindungi, LBH Jogja waktu itu jadi kanal pertemuan rutin teman-teman yang ditekan Soeharto,” lanjutnya.

Membayar Hutang Sejarah

Dedikasi tinggi Almarhum Artidjo Alkostar kepada almamaternya, diakui Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid.

Meski punya kesibukan sebagai Anggota Dewan Pengawas KPK di Jakarta, tetapi almarhum selalu menyempatkan diri datang ke kampus, untuk menebarkan ilmu dan inspirasi bagi para mahasiswanya.

”Bagi beliau, mengajar di almamater adalah membayar hutang sejarah yang harus dilunasi,” ucap rektor.

Sebagai orang nomor satu di UII, Fathul sangat merasakan duka mendalam, atas kepergian figur yang selalu menjadi teladan dalam banyak hal, baik itu keberanian, integritas maupun kesederhanaannya.

Prosesi pemakaman Almarhum Artidjo Alkostar yang juga Anggota Dewan Pengawas KPK

Namun kini, Par Ar kata dia, bukan hanya milik UII, tetapi sudah menjadi milik Bangsa Indonesia.

”Kami mohon semua ikut mendoakan bersama, agar Pak Ar menghadap Allah SWT dalam kemuliaan,” pungkasnya.

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus penghargaan, jenazah Artidjo Alkostar yang meninggal dunia di Jakarta, Minggu (28/2), dikebumikan di Makam Keluarga Besar UII, kompleks Kampus Terpadu Jalan Kaliurang Yogyakarta, Senin (1/3/2021). (ws/yyw).        

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00