Kenduri Air Hujan

Tari Riris Mangenjali

KBRN, Yogyakarta : Kirab Bregodo Prajurit Pangeran Cempo berjumlah 20 orang, mengawali tradisi tahunan Kenduri Banyu Udan, Sabtu (24/10/2020) di Pedukuhan Tempursari, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Para prajurit menyusuri jalan desa, menggunakan pakaian yang didominasi warna merah, juga memakai topi berujung lancip di bagian atas. Empat belas orang pembawa tombak, berjalan perlahan mengikuti irama musik, yang ditabuh enam orang prajurit di barisan belakang.

Selain rombongan prajurit, 10 penari perempuan berkebaya lurik dengan rambut disanggul, berjalan membawa kendi berisi air, diikuti belasan penari anak dan kelompok pemuda setempat.

Setelah beberapa menit berjalan, rombongan kirab menuju lokasi kenduri di sebuah bangunan beratap Joglo,  yang biasa digunakan untuk kegiatan Sekolah Air Hujan.

Bunyi gamelan yang ditabuh pengrawit, mengiringi gerak penari saat membawakan Tari Riris Mangenjali. Sambil menari, mereka memasukkan air dari kendi, ke dalam gentong yang ada di tengah panggung.

”Nama tarian ini berasal dari Bahasa Sansekerta, yang artinya bagaimana kita mensyukuri atas terjadinya hujan,” kata Rosalia Haryati, pelatih sanggar tari Komunitas Banyu Bening.

Tahun ini, Kenduri Banyu Udan telah memasuki penyelenggaraan yang kelima. Sri Wahyuningsih sebagai Pimpinan Komunitas Banyu Bening memilih cara sederhana, melaksanakan kenduri di tengah Pandemi Corona.

Jika di tahun-tahun sebelumnya, berbagai pihak diundang untuk bisa datang ke acara tersebut, namun kali ini tidak.

Tapi intinya ada konsep yang ingin dikenalkan kepada masyarakat, pertama ajakan menampung air hujan, kedua mengajak masyarakat agar mau mengolah air hujan, baik direbus atau elektrolisis dan sebagainya.

”Harapannya masyarakat mau minum air hujan, termasuk bisa mandiri tentang air bersih, karena air menjadi kebutuhan mendasar seluruh makhluk hidup,” imbuhnya.

Perempuan yang akrab disapa Yu Ning ini, juga memaparkan manfaat air hujan untuk menjaga daya tahan tubuh, di masa pandemi corona.

”Air hujan sebelum jatuh ke tanah pengotorannya lebih sedikit, air seperti ini dibutuhkan tubuh kita, karena kluster molekulnya kecil sehingga bisa masuk ke dalam sel, sehingga bisa membawa masuk nutrisi agar daya tahan tubuh kuat,” terangnya.

Sedangkan Kepala Bidang Dokumentasi, Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Dinas Kebudayaan Sleman, Wasito yang ikut menyaksikan langung kegiatan ini, menyampaikan apresiasinya.

”Kegiatan ini memang sangat positif, bagaimana menumbuhkan budaya masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan sekitar, kami memfasilitasi acara ini dan tentunya menerapkan protokol kesehatan,” ucapnya. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00