Hampir Setahun Tanpa Kepastian, Pekerja Akan Pailitkan Hotel Grand Quality

FSPM GQ

KBRN, Yogyakarta : Pesangon tidak dibayarkan PT Griya Asri Hidup Abadi (Hotel Grand Quality Yogyakarta) sesuai nota anjuran Dinas Tenaga Kerja DIY senilai Rp3,3 miliar, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM) Grand Quality akan mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga Semarang.

Ketua FSPM GQ Indonesia regional Jateng-DIY Marganingsih mengatakan, upaya hukum berupa permohonan pailit akan dilakukan ada awal Maret 2021.

"Perundingan yang sudah berjalan sejak 13 Januari 2021 ternyata berakhir dengan jalan buntu," katanya dalam keterangan persnya di Kamayan coffee & eatery Sleman, Jumat (26/2/2021).

Menurutnya, 54 pekerja bersama kreditur lain yang sudah bekerja sejak pertama hotel beroperasi tahun 1992 lalu, sudah hampir Satu tahun ini kehilangan pekerjaan baik di PHK maupun di rumahkan.

"Teman-teman disini menjerit kenapa pihak pengusaha mengabaikan sedangkan teman-teman ini sudah mengabdi 1992. Kenapa tidak ada penghargaan dari pihak pengusaha sama sekali," imbuhnya.

Ia menjelaskan, Hotel GQ yang berafiliasi dengan pemegang saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritek) tetap tidak mau membayarkan pesangon meski para pekerja sesudah bersedia menurunkan jumlah pesangon di bawah nilai nota anjuran Disnaker yang merupakan angka normatif.

"Kami menyesalkan sikap pemegang saham Vonny Imelda Lukminto, Hajjah Susyana Lukminto, Iwan Setiawan dan Putra Widjaja selaku Presiden Direktur Perseroan yang tidak patuh atas nota anjuran dari Disnaker sebagai wakil Pemerintah Republik Indonesia," ujarnya.

Pihaknya mengharapkan, polemik dan kisruh kewajiban normatif yang harus diberikan perusahaan tidak berlarut-larut karena akan mengganggu hubungan industrial nantinya.

Sementara itu, Salah satu pekerja Nur Asyiah mengharapkan, kewajiban perusahaan untuk memberikan pesangon dapat dilaksanakan.

"Kami menggugah hatinya untuk segera memberikan hak-hak kita hak normatif karyawan, karena memang menghendaki itu, kami terlantar selama satu tahun tidak diperhatikan sama sekali," ungkapnya.

Ditambahkannya, terakhir bekerja pada bulan April 2020 kemudian di rumahkan namun tidak diberi kepastian untuk kelanjutan pekerjaan.

"Setelah Empat bulan kita coba cek BPJS Ketenagakerjaan, kan ada bantuan dari Presiden mengenai karyawan kena dampak Covid. Tapi ternyata sama perusahaan sudah ditutup," terangnya. (ian/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00