Geliat Usaha Batik Kulon Progo di Tengah Pandemi Covid-19

KBRN, Kulon Progo : Banyak pengrajin batik sudah eksis di Kabupaten Kulon Progo. Masing-masing produk batik memiliki ciri khas sendiri sebagai identitas sehingga menarik banyak pembeli. Namun pandemi COVID-19, banyak memberi dampak besar pada industri batik Kulon Progo dengan Geblek Renteng sebagai ciri khasnya. Batik Thinthing Kulon Progo, turut merasakan dampaknya.

Joko Mursito, pemilik Batik Thinthing mengatakan, pada awal masa Pandemi COVID-19, produksi batik thinting sempat anjlok bahkan tidak berproduksi sama sekali. Tidak hanya itu, galeri batik tersebut juga sempat tutup selama sebulan sejak akhir bulan Maret hingga April. 

"Karyawan kami utamanya yang dari luar daerah banyak yang dirumahkan. Selain agar mereka konsentrasi berkumpul dengan keluarga, juga karena produksi kami sedang mengurangi oplah produksi karena pasarnya sedang lesu," ungkap Joko, di Kulon Progo, Selasa (19/01/2021).

Untuk sekarang ini, lanjut Joko, batik thinting sudah mulai menggeliat. Pemesanan melalui online dan tingkat kunjungan ke Galeri sudah banyak meningkat. Pariwisata sudah mulai bergerak sehingga banyak orang yang berbelanja. 

Sekarang ini, penjualan Batik Thinthing sudah menembus angka 200 lembar kain tiap bulannya. sementara pada saat sebelum pandemi, kain yang terjual mencapai 400 sampai 500 lembar kain. 

"Kami sekarang memperkerjakan 3 orang karyawan. Satu orang di galeri dan 2 orang di bagian produksi. Dulu sebelum pandemi ada 13 orang, baik yang di galeri, produksi, maupun kerjasama dikerjakan di rumah," ucap Joko.

Batik Thinthing memang memiliki motif yang menarik dengan ciri khas budaya. Ada gamelan, candi dan yang terbaru motif lampu khas jogja. Motif yang unik ini akhirnya banyak diapresiasi berbagai pihak karena dianggap sebagai ciri khas. Motif budaya ini kemudian menjadi identitas dari Batik Thinthing.

“Produk Batik Thinthing dipasarkan mulai harga Rp125 ribu hingga Rp300 ribu perlembarnya. Yang paling diminati, antara harga Rp200 ribu - Rp 250ribu," ungkapnya. 

Sebagai upaya untuk menarik minat konsumen, lanjut Joko, pihaknya akan terus berinovasi menciptakan motif-motif baru, Agar konsumen tidak bosan.

Sementara tu salah satu pembeli, Ami (29) warga Kapanewon Wates mengatakan, motif batik thinthing berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri.

"Kebetulan saya suka budaya jadi motif batik thinthing menarik bagi saya," tutur nya. (hrn/yyw).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00