IE-CEPA Mudahkan Ekspor Tanpa Bea Masuk 7.000 Lebih Produk ke Negara EFTA

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga

KBRN, Yogyakarta : Kementerian Perdagangan menggelar Sosialisasi perjanjian dagang Indonesia dan negara anggota EFTA Comprehensif Economik Partnership Agreement (IE-CEPA) di Yogyakarta, Senin (29/11/2021).

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, terdapat berbagai manfaat dari adanya perjanjian perdagangan internasional yang dibangun Kementerian Perdagangan, salah satunya lebih dari 7.000 produk ekspor Indonesia yang masuk ke negara-negara The European Free Trade Association (EFTA) tidak dikenakan tarif bea masuk. 

Untuk itu ditambahkan Jerry Sambuaga,  para pelaku  usaha diharapkan memanfaatkan berbagai kemudahan hasil perjanjian ini.

"Tidak dikenakan bea masuk. Ini dapat dimanfaatkan pelaku ekspor sehingga lebih ekonomis, praktis, efisien, dan bermanfaat,” ungkapnya. 

Selain itu, Kemendag diungkapkan Jerry, telah menyelesaikan 23 perjanjian di seluruh negara di dunia yang mewakili lima benua. 

"Ini kerja keras semua pihak yang harus dimanfaatkan pelaku usaha. Diharapkan melalui sosialisasi didapat hasil konkret dalam meningkatkan ekspor Indonesia," tandasnya.

Kegiatan sosialisasi yang digelar secara hibrida ini dihadiri Anggota Komisi VI DPR RI Haeny Relawati Rini Widyastuti. Hadir sebagai narasumber Sekretaris Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Ari Satria, Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi DIY Aris Riyanta, serta Ketua Komite Tetap Digital Marketing Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Yogyakarta Yoyok Rubiantono. Bertindak sebagai moderator Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Arlinda.

Wamendag menyatakan, sosialisasi hasil perjanjian perdagangan internasional ini merupakan bagian penting dan tidak terpisahkan dari negosiasi perjanjian dagang. 

Untuk itu, Kemendag gencar melakukan sosialisasi di berbagai daerah untuk memastikan pelaku usaha di daerah berpartisipasi dalam memanfaatkan hasil perjanjian dagang yang telah diselesaikan. 

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Haeny menyampaikan, forum ini dapat digunakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan akses pasar dan kerja sama yang telah dibuka Pemerintah

“Kami berharap dengan adanya forum sosialisasi ini seluruh pemangku kepentingan, khususnya para pelaku usaha di daerah, dapat lebih memahami ketentuan serta peluang yang ada pada perjanjian perdagangan internasional,” katanya.

Sedangkan Aris Riyanta menambahkan, perdagangan internasional memegang peranan vital dalam peningkatan ekonomi. 

Kerja sama perdagangan dan investasi Indonesia dan negara di Eropa harus ditingkatkan sehingga dapat menumbuhkan perekonomian berkelanjutan. Melalui kegiatan sosialisasi ini, Pemerintah Provinsi DIY mempromosikan peluang investasi potensial dalam sektor pariwisata, perdagangan, dan infrastruktur kepada negara di Eropa.

"Berinvestasi di Yogyakarta merupakan langkah yang menguntungkan karena wilayahnya aman dan stabil, serta seluruh peraturan memfasilitasi dunia usaha. Diharapkan sosialisasi dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha, khususnya di Yogyakarta,” pungkas Aris.

Pada kegiatan ini juga dilakukan penyerahan penghargaan kepada pelaku usaha yang telah memanfaatkan Free Trade Agreement (FTA) Center. Penghargaan ini bertujuan untuk memotivasi para pelaku usaha untuk memanfaatkan hasil-hasil perundingan perdagangan internasional. Penghargaan diserahkan kepada lima perusahaan yang telah melakukan ekspor dengan menggunakan surat keterangan asal (SKA) preferensi. Perusahaan tersebut, yaitu PT Mega Prima Mandiri dengan produk sarung tangan kulit dan tekstil ke Jepang, CV Cocoon Asia (furnitur ke Amerika Serikat dan Eropa), PT Budi Makmur (kulit disamak ke Tiongkok), PT Choice Plus Makmur (biskuit ke negara ASEAN dan Korea Selatan), CV Dian pratama (daun lompong ke Australia).

Perdagangan Indonesia-EFTA Pada periode Januari—September 2021, total perdagangan Indonesia-EFTA mencapai USD 1,73 miliar.  Pada periode tersebut, ekspor Indonesia ke EFTA mencapai USD 1,17 miliar sedangkan impor Indonesia dari EFTA sebesar USD 559,36 juta. Dengan demikian, Indonesia mengalami surplus sebesar USD 606,64 juta. 

Produk ekspor utama Indonesia ke EFTA di antaranya emas, perhiasan, sisa skrap logam mulia, serat optik, dan buldozer. Sementara impor Indonesia dari EFTA antara lain bahan peledak dan amunisi, tinta, jam tangan dari logam mulia, jam tangan, dan ikan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar