Suprapto, Kusir Andong: Rasanya Ingin Menangis Kencang

Kusir Andong Malioboro merasakan sulitnya mencari uang akibat penumpang sepi selama pandemi

KBRN, Yogyakarta : Terdengar suara langkah kaki kuda, menarik kereta roda empat bernama Andong, di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat (26/2/2021).

Beberapa penumpang yang naik alat transportasi tradisional itu, dibawa berkeliling menikmati suasana Malioboro.

Meski jumlah penumpang tidak banyak, Suprapto sebagai kusir andong tetap bersyukur. Setahun terakhir, ia merasakan betapa sulitnya mencari pundi rupiah akibat pandemi korona.

”Kalau boleh menangis ingin menangis sekencang-kencangnya, karena sudah tidak ada penumpang,” ungkapnya.

Sebelum terjadi pandemi, pendapatan kusir andong rata-rata Rp150 ribu per hari. Kini, untuk memperoleh nominal uang yang sama, tidak semudah membalik telapak tangan.

Padahal, biaya perawatan satu ekor kuda minimal Rp75 ribu per hari, terutama untuk membeli kebutuhan pakan, seperti bekatul dan daun kacang.

Jika kuda sakit dan butuh obat, biaya perawatan otomatis bisa membengkak. Karena saat ini dirinya kesulitan mencari uang, terpaksa mencari rumput di sawah untuk pakan alternatif.

”Kami sangat butuh sembako dan uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” lanjut Suprapto.

Pernah juga, pihaknya diberi bantuan uang tunai oleh sejumlah tokoh, salah satunya Presiden Joko Widodo, tetapi itu sudah lama dan uang bantuan sudah habis.

Tantangan Berat

Himpitan ekonomi yang dirasakan masyarakat, akibat serangan virus covid-19, diakui Kepala Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Hilman Tisnawan.

Bertempat di kantornya Jalan Panembahan Senopati, Jumat (26/2/2021) Hilman bersama jajaranya, memberi bantuan paket sembako bagi ratusan kusir Andong, yang sehari-hari mencari nafkah di kawasan wisata Malioboro.

”Ini memang tantangan yang tidak ringan, di tengah masih berlangsungnya pandemi korona,” ungkap dia. (ws/yyw).     

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00