Karena Tol Sekolah SMK di Sleman Jadi Korban

Gedung SMK 17 Seyegan Sleman

KBRN, Yogyakarta : Pihak SMK 17 Seyegan Sleman mengajukan relokasi gedung sekolah, kepada Satker Pelaksana Jalan Tol.

Penyebabnya, letak gedung sekolah di selatan Selokan Mataram, masuk dalam rute Tol Jogja-Bawen. Eni Pujiasri selaku kepala sekolah menyebut, relokasi adalah satu-satunya pilihan.

”Kalau berlanjut di situ (lokasi lama, red) nggak mungkin, kalaupun nanti ganti untungnya mengharuskan disitu juga nggak mungkin, ke belakang nggak bisa, ke kanan nggak bisa, ke kiri ya kena tol,” kata dia.

Usai mengikuti konsultasi publik rencana pembangunan Jalan Tol, di Kantor Desa Margodadi hari Senin (21/9/2020), Eni juga memastikan, setelah sosialisasi pembangunan Jalan Tol tanggal 11 Agustus lalu, semua pihak mendukung untuk relokasi sekolah.

”Terkait hal ini saya sudah berkoordinasi baik dengan kepala desa maupun pihak yayasan,” lanjutnya.

Sesuai rencana, pembangunan Jalan Tol Jogja-Bawen akan menghilangkan beberapa bangunan sekolah, seperti laboratorium di lantai dua, kantin, dapur, toko, dan tempat parkir kendaraan siswa.

Sebagai Lurah Desa Margodadi, Subandi segera berkoordinasi dengan jajarannya, untuk bisa merelokasi bangunan sekolah di atas sebidang tanah kas desa di wilayah Pedukuhan Mranggen, berjarak 50 meter selatan lokasi jalan tol.

”Ada tanah kas luasnya tiga ribuan meter, kebetulan kemarin kan jadi pelungguh staff, tapi belum saya tunjukkan ke sekolah, harus ada persetujuan Badan Permusyawaratan Desa (BPD),” terangnya.

Satker Akan Cermati

Anggota Tim Satker Jalan Tol Agus Triono, masih akan mencermati kondisi di lapangan, terkait munculnya rencana untuk merelokasi gedung SMK 17 Seyegan yang terdampak Jalan Tol.

Pihaknya ingin memastikan, apakah ruas tol betul-betul menghilangkan fungsi sekolah atau hanya kena sebagian kecil saja.

”Toh mayoritas nanti tol di sini melayang, sehingga kalau bawahnya ada ruang kosong yang bisa dimanfaatkan kan tidak apa-apa,” ucap Agus.

Pembangunan Jalan Tol Layang Jogja-Bawen setinggi 15 sampai 20 meter, direncanakan sepanjang 7,6 kilometer, dengan lebar 50 meter. Ada tujuh desa yang dilintasi meliputi tiga kecamatan, yaitu Tempel, Seyegan dan Mlati. (ws/yyw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00