Banyak Kasus OTG, DPRD DIY Minta Aktifkan Shelter

Wakil DPRD DIY Huda Tri Yudiana

KBRN, Yogyakarta : Rumah sakit lapangan perlu segera diaktifkan untuk mengantisipasi banyaknya tambahan kasus positif Covid 19 di DIY.

Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana mengatakan, lonjakan kasus positif dalam Dua hari ini meningkat sangat besar untuk ukuran DIY, 64 dan 67 kasus positif Jumat-Sabtu (31/7-1/8/2020).

Menurutnya, trend peningkatan jumlah kasus positif dimungkinkan masih terus terjadi.  Hal ini karena Pemda sangat massif melakukan tes massal dan karena transmisi lokal sudah terjadi massif juga.

"Sangat dikhawatirkan kapasitas rumah sakit di DIY akan overload dan tidak mampu lagi jika tidak disikapi dengan cepat dan taktis," katanya di Yogyakarta.

Ia menyebutkan, pasien positif Covid 19 yang tanpa gejala (confirm asymtomatic) jangan sampai dipulangkan dan diminta isolasi mandiri karena nantinya tidak dapat terkontrol dan bisa menyebarkan virus tanpa kendali. Juga jangan sampai pasien dengan gejala sakit sedang apalagi berat tidak bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit secara memadai sehingga rawan menjadi lebih parah.

"Kapasitas RS yang disiapkan 320 bed dan kosong tinggal sekitar 100 bed, dengan peningkatan akhir akhir ini. Sehingga harus sangat bijak dan taktis dalam penanganannya," jelasnya.

Saat ini, ditambahkan Wakil ketua DPRD DIY dari Fraksi PKS ini, kebanyakan kasus yang terjadi di DIY adalah confirm asymptomatic (konfirmasi positif tanpa gejala) sehingga dalam kondisi darurat bisa dirawat di shelter atau penampungan yang tidak memerlukan fasilitas medis sebagaimana rumah sakit.

"Perawatan di shelter ini harus diawasi khusus dan disiapkan segala sesuatunya agar jika ada yang keluhan gejala langsung bisa dirawat di RS. Peningkatan daya tahan tubuh harus diperhatikan khusus. Pada sisi lain rumah sakit dipakai merawat pasien dengan gejala,  agar semua tertangani secara baik dan tidak memburuk kondisinya," tegasnya.

Huda menjelaskan, Shelter sangat diperlukan karena, jika confirm asymptomatic juga dirawat di RS akan sangat mahal dan membuat kapasitas rumah sakit cepat penuh. Dikhawatirkan juga yang bergejala dan perlu perawatan justru tidak mendapat tempat inap.

"Saat ini belum semua pemerintah kabupaten kota memiliki shelter untuk merawat confirm asymptomatic. Sleman punya Asrama Haji,  Bantul ada gedung balai desa dan warga RS lapangan,  Kota Jogja malah belum punya," tambahnya.

Pihaknya meminta, Dinas kesehatan DIY segera berkoordinasi dengan Pemda kabupaten kota untuk siapkan lokasi shelter, seiring dengan gerakan swab massal. Kapasitas Rumah Sakit yang bisa dinaikkan juga perlu disiapkan, seperti RS hardjolukito yang masih mungkin ditambah sekitar 100 bed.

"Swab massal sangat penting dilakukan tapi seiring dengan itu harus juga disiapkan fasilitas penampungan dan perawatan bagi yang confirm," ujarnya.

Pihaknya menegaskan, lonjakan kasus yang terjadi di DIY saat ini, harus menjadi peringatan masyarakat untuk taat menegakkan protokol kesehatan. Pihaknya menyebutkan, tanpa ketaatan Protokol Kesehatan semua upaya akan sia-sia.

"Jangan sampai kapasitas RS dan fasilitas kesehatan di DIY tidak mampu menampung pasien convid," pungkasnya. (ian/ryt)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00