Tokoh Bangsa, Buya Syafi'i Ma'arif Wafat

KBRN Yogyakarta : Kabar duka menyelimuti Indonesia. Salah satu tokoh bangsa dan Muhammadiyah, Ahmad Syafi’i Ma’arif meninggal dunia. Sosok yang akrab disapa BUYA ini, meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Jumat hari ini tepat pukul 10.15 WIB.  Sebelumnya, Buya Safii Maarif dirawat di RS PKU Muhammadiyah Gamping Sleman, sejak Sabtu 14 Mei 2022 lalu karena mengalami sesak napas.

Ahmad Syafii Ma'arif lahir di Minangkabau pada 31 Mei 1935. Ia bersaudara dengan 15 orang yang seayah namun tidak seibu. Sewaktu ia berusia satu setengah tahun, ibunya meninggal hingga ia kemudian dititipkan oleh ayahnya ke rumah bibinya yang bernama Bainah.

Tahun 1942, ia dimasukkan ke Sekolah Rakyat di Sumpur Kudus dan kemudian ia melanjutkan ke Madrasah Muallimin di Balai Tengah, Lintau, Sumatera Utara. Saat ia berusia 18 tahun, ia memutuskan untuk merantau ke Jawa, tepatnya ke Yogyakarta. Di sana ia ingin meneruskan sekolahnya ke Madrasah Mualimin di kota itu. Namun keinginan tersebut tidak terwujud dengan alasan bahwa kelas sudah penuh. Malahan ia direkrut menjadi guru pengajar di sekolah itu.

Keterlibatan Buya dengan organisasi Muhammadiyah, kemudian berlanjut dengan diangkatnya ia menjadi guru di salah satu sekolah milik Muhammadiyah atas permintaan Muhammadiyah. Selanjutnya bekas aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini, menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti program master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Univesitas Chicago, AS.

Selain aktiif di dunia pendidikan, ia juga merupakan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah periode 2000 – 2005. Ia kemudian digantikan oleh Prof. Dr. H. Din Syamsuddin.  Setelah meninggalkan posisinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Kini ia aktif di Maarif Institute yang juga didirikannya. Di samping itu, guru besar IKIP Yogyakarta ini juga rajin menulis. Sebagian besar karyanya adalah mengangkat masalah - masalah Islam. Atas karya - karyanya itu, ia mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina di tahun 2008.

Selamat Jalan Buya Syafi’i Ma’arif. Bangsa Indonesia kehilangan mutiara terbaiknya

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar