Rekam Jejak 28 Tahun Yatim Mandiri, Dukung Anak Yatim Dhuafa Jadi Insan Mandiri Dipamerkan di Jogja

Yatim Mandiri merilis buku judul Jejak-jejak Kemandirian di Sell

KBRN, Yogyakarta : Dalam rangka rangkaian 28 tahun berdirinya lembaga "Yatim Mandiri" sekaligus masih dalam momentum bulan Syawal, Yatim Mandiri menggelar Mini Exhibition dengan tema Impactful Zakat, di Sellie Coffe Malioboro, Yogyakarta.

Pameran yang bertujuan untuk menjalin silaturahim dengan berbagai pihak, seperti masyarakat luas, stakeholder, serta para donatur, sekaligus menunjukkan capaian Yatim Mandiri dari tahun 1994 berkiprah memandirikan anak yatim dan dhuafa, melalui zakat. 

Selain itu, pameran tersebut juga menampilkan rekam jejak beberapa lulusan lembaga pendidikan dan unit program yang berprestasi, seperti lulusan Mandiri Entrepreneur Center yang telah sukses di dunia usaha maupun dunia industri, serta para santri Insan Cendekia Mandiri yang telah menjadi hafidz Al-Quran, dan yang telah berkuliah di perguruan tinggi negeri.

Termasuk berbagai program kemanusiaan, pendistribusian, dan pendayagunaan yang telah dilakukan Yatim Mandiri selama ini

Direktur Utama Yatim Mandiri, H. Mutrofin mengatakan, pendampingan diberikan agar para anak yatim maupun dhuafa mampu mandiri salah satunya melalui program beasiswa.

"Program beasiswa yang pernah mendapatkan rekor MURI tahun 2011, itu lebih dari 17.500 anak yatim yang diberikan bantuan beasiswa," katanya, Rabu (18/5/2022).

Menurutnya, dalam kurun waktu satu tahun bantuan program beasiswa bagi anak yatim dikisaran angka 20.000 anak.

Sedangkan program bantuan kepada anak yatim, dhuafa, hingga ibu para yatim mencapai kisaran 200ribu diseluruh Indonesia.

"Waktu awal Covid Yatim Mandiri juga menginisiasi bantuan bagi anak-anak yatim akibat musibah ayahnya meninggal dunia karena Covid, awal itu sekitar seribu anak yatim. Dan Alhamdulillah secara nasional beberapa lembaga mengikuti jejak Yatim Mandiri," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Program Yatim Mandiri, Hendi Nurokhmansyah menyampaikan, program-program yang dilakukan terus bertranformasi untuk menjawab semangat dalam upaya penyelesaian masalah anak yatim dan dhuafa.

Mengingat, keberlangsungan hidup tidak hanya sekedar bantuan uang dan makan, akan tetapi dukungan yang berlanjut.

"Akhirnya kami mendesain program-program yang susplainnya berkelanjutan yang dampak output nya lebih kuat," ujarnya. 

Dijelaskannya, selama 15 tahun terakhir ini dibentuk sebuah unit-unit pendidikan baik formal maupun non formal, yang hal tersebut dinilai mampu mempunyai dampak lebih lama.

"Awalnya kami memprogramkan sebuah Diklat kemandirian namanya mandiri entrepreneur center, Alhamdulillah lulusannya lebih dari Dua ribu anak yang profil-profilnya ditampilkan di pameran itu," terangnya.

Ia menceritakan, salah satu kisah sukses dari seorang anak yatim di sebuah desa di Pasuruan, yang kini sukses menekuni dunia grafis dan menjadi seorang konsultan branding.

"Panggilannya Aspul, awalnya tidak cukup percaya diri, minder tetapi punya kemauan keras. Sama sekali tidak punya kemampuan komputer tetapi dia punya basic artistik yg kuat gambar melukis, akhirnya kita kenalkan dengan seorang desain, dan ketemu komunitas. Akhirnya dia menjadi seorang branding konsulting dimana satu logo branding dia hargai 15juta rupiah. Jadi transformasi itu ada," bebernya. 

Selain menjadi semangat untuk dirinya dan keluarga dari beberapa kisah kesuksesan yang berhasil diraih, dapat menjadi pemacu semangat anak yatim dhuafa untuk mengikutinya.

"Ada pula yang menjadi CEO yang menawarkan bisnisnya melalui website, dan pernah dalam sekali transaksi 300juta kemudian mengumrahkan 6orang, 2 diantaranya pengasuhnya dan satpam," terangnya.

Sederet kisah sukse ditampilkan, namun ia tidak menampik masih ada yang terus berproses.

"Artinya peran Yatim Mandiri itu sebagai fasilitator kebutuhan anak dengan akses di luar yang dikomunikasikan. Dengan memberikan tools awal ke mindset mereka dan kami akseskan mereka kepada yang lebih ahlinya," jelas Hendi.

Selain entrepreneur, santri Insan Cendekia Mandiri juga menjadi seorang Tahfiz Al-Qur'an, salah satunya Sauqi asal Mojokerto kelas 12.

Meski sempat kesulitan dalam menghafalkan Al-Qur'an, namun seiring berjalannya waktu dan dukungan guru sehingga hafalan yang disetorkan semakin meningkat.

"Yang utama niatnya, kemudian doa dan dukungan dari keluarga, ada guru untuk membimbing, sabar, dan lingkungan," katanya.

Untuk mempertahankan hafalannya, ia pun secara rutin setiap hari melakukan murojaah minimal 3-5 Juz.

Selain Pameran, dalam kesempatan tersebut, Yatim Mandiri juga merilis buku dengan judul Jejak-jejak Kemandirian. 

Buku ini adalah rangkuman kisah proses kemandirian para alumni Mandiri Entrepreneur Center (MEC). 

Sebanyak 17 kisah sukses para alumni MEC diceritakan dengan detil dan apik, sehingga bisa menambah semangat para pembaca. Mulai bagaimana kehidupan para anak yatim setelah sang ayah meninggal, bagaimana mereka mengenal MEC, sampai bagaimana kehidupannya setelah lulus masa pendidikan di MEC.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar