Prihatin dengan Kekeringan, Watusigar Jadi Kalurahan Konservasi Pertama di Gunungkidul

KBRN, Gunungkidul: Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen menjadi kalurahan pertama di Gunungkidul yang menjadi Kalurahan Konservasi.

Dengan menanam 2.200 bibit pohon serta pelepasan ribuan ikan lokal di Sungai Oya juga ikan Sidat di sejumlah sumber Minggu (5/12/2021), Kalurahan Watusigar resmi mendeklarasikan sebagai Kalurahan Konservasi.

Program skala kalurahan ini dianggarkan dari Dana Desa, dan aksi penanamannya melibatkan Forkompinka Ngawen, relawan serta seluruh elemen masyarakat dari setiap Padukuhan di Watusigar.

Wilayah Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen ditengah tengahnya memang dibelah oleh sungai Oya, sungai terpanjang di Gunungkidul. Sungai yang selama ratusan tahun mempunyai banyak cerita dan manfaat untuk masyarakat Kalurahan Ngawen.

"Kebutuhan air kemudian dicukupi dengan mengebor dan dikelola oleh Spamdus, ada 12 titik Spamdus di Watusigar," terang Carik Kalurahan Watusigar, Karismin.

Ia menambahkan, saat kemarau datang, aliran air dari Spamdus ini ternyata juga terhenti, alias sumber air bawah tanah yang dibor debitnya juga menyusut.

"Hilangnya pepohonan di sepanjang sungai, serta masih banyak masyarakat yang mencari ikan dengan strom dan racun membuat air sungai Oya cepat mengering, belum ketika banjir, tanah disepanjang sungai banyak yang longsor dan terkikis air," lanjut Karsimin.

Permasalahan permasalahan ini kemudian menjadikan pemerintah Kalurahan Watusigar mengambil sebuah langkah untuk mencari sebuah solusi jangka panjang, yaitu memprogramkan konservasi atau isu lingkungan ini menjadi salah satu isu penting dalam membangun wilayah.Karsimin menyebut, bahwa untuk mencari solusi terkait permasalahan ini, pihak kalurahan memang harus berani untuk menginisiasi program, dengan harapan masyarakat akan kembali tergugah kesadarannya tentang lingkungan.

Jenis pohon yang ditanam, selain jenis pohon yang berfungsi secara ekologi konservasi, juga disertakan jenis pohon yang bernilai secara ekonomi masyarakat yaitu Sengon. Bibit ini didapat dari kebun pembibitan BP DAS Serayu Opak serta sumbangan dari berbagai komunitas peduli lingkungan.

Sementara itu, Lurah Watusigar, Giman mengatakan, program Kalurahan Konservasi ini bertujuan untuk membangun kembali kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan merawat alam, agar bisa dimanfaatkan sebaik baiknya tapi dengan tetap menjaga kelestariannya.

"Program ini tidak hanya sekali ini saja, melainkan berkala setiap tahun, di tahun 2022 kami juga menganggarkan kegiatan seperti ini," pungkas Giman.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar