Perlunya Polisi Khusus di Bandara YIA

Suasana di Bandara YIA

KBRN, Kulon Progo : Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo, yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Agustus 2020 lalu, dengan kapasitas hingga 20 juta orang pertahun, turut meningkatkan potensi berbagai tindak kriminalitas.

PS Kasie Humas Polres Kulon Progo, Iptu I Nengah Jeffry mengatakan, pada tahun 2021, sudah ada dua kasus kejahatan di Bandara YIA yang ditangani oleh Polres Kulon Progo. Pertama, adalah penipuan jual-beli berlian pada bulan September 2021 lalu. Sedangkan aksi kejahatan yang kedua yakni kasus video viral perempuan yang melakukan aksi eksibisionisme di kawasan Bandara YIA.

"Dengan adanya kasus ini, kami memandang perlunya kehadiran polisi di Bandara YIA untuk menekan terjadinya kriminalitas di bandara. Mengingat saat ini belum ada polisi yang khusus bertugas disana. Belum ada Pos khusus polisi seperti di Bandara Soekarno Hatta ataupun bandara lainnya,” kata Iptu I Nengah Jeffry, Jumat (3/12/2021).

Menurut Jeffry, jika Polsek atau Pos Polisi ada di bandara YIA, upaya pencegahan serta penindakan aksi kejahatan bisa lebih cepat dilakukan. Masyarakat juga akan merasa lebih aman karena ada petugas kepolisian yang bertugas langsung di Bandara YIA.

"Dengan Bandara YIA yang bertaraf internasional, kami menilai perlu ada pos polisi Khusus Bandara, seperti Polsek, Pos Polisi atau bahkan Polres Bandara," terang Jeffry.

Pada saat ini, Polres Kulon Progo memang tengah menyelidiki kasus pornografi yang diduga terjadi di area parkir bandara YIA. Dalam video yang beredar, salah seorang perempuan memamerkan payudara dan alat kelaminnya.

"Kami masih menyelidiki dan berupaya mengungkap siapa pelakunya. Kami bekerjasama dengan tim siber Polda DIY dan PT Angkasa Pura I," tutur Kapolres Kulon Progo, AKBP Muharomah Fajarini.

Fajarini menambahkan, tindakan yang dilakukan oleh wanita yang masih dalam pengejaran tersebut, dipastikan melanggar Undang-undang (UU) Pornografi dan UU ITE. Pembuat dan penyebarnya, bisa terancam pidana paling lama 12 tahun serta denda paling banyak Rp. 6 miliar. Sedangkan pelaku, dikenakan UU Pornografi dengan ancaman pidana 12 tahun penjara atau denda maksimal Rp. 6 miliar. Pelaku juga dijerat pasal 45 ayat 1 UU ITE dengan hukuman penjara paling lama 6 tahun dan denda maksimal 1 miliar.

Sedangkan untuk kasus lainnya, ungkap Fajarini, yakni tindak kejahatan jual beli berlian palsu dengan untung jutaan rupiah. Dalam kasus ini ada empat tersangka yakni DWN (30) asal Klaten, Jawa Tengah, AS (46) pria asal Klaten, Jawa Tengah, PUR (50) pria asal Kediri, Jawa Timur dan RH (40) asal Jember, Jawa Timur.

"Para pelaku ini berhasil ditangkap pada tanggal 9 September 2021, saat korban Budi Wiyono melihat mereka kembali di bandara YIA. Korban selanjutnya melaporkan keberadaan para pelaku kepada petugas keamanan bandara dan petugas Polres Kulon Progo yang kemudian segera menangkap para pelaku. 

"Para pelaku dijerat Pasal 378 juncto Pasal 55 KUHP tentang Penipuan dengan ancaman hukuman maksimal empat tahun penjara," pungkas Fajarini. (hrn).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar