Daging Kurban Bukan Untuk Upah Jagal

Ilustrasi

KBRN, Ternate; Majelis Ulama Indonesia --MUI Maluku Utara mengingatkan agar penanganan daging kurban haruslah dilakukan secara higienis, termasuk dalam pendistribusiannya, daging kurban tidak boleh diberikan sebagai upah.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Malut, Harwis Alimudin mengatakan dalam proses penyembelihan hewan kurban, sering kali panitia melibatkan Juru Sembelih Hewan atau Jagal. Ketika pendistribusian, daging kurban tidak boleh dijadikan sebagai upah kepada siapa pun Jagal karena itu menyalahi aturan sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW.

"Dan tidak boleh memberikan bagian kurban sedikitpun kepada tukang jagal sebagai upah," kata Harwis mengutip Hadist Nabi.

Sehubungan itu, Harwis menegaskan agar dalam pendistribusian daging harus dibedakan antara upah dan daging kurban sebagai hadiah. Untuk upah jagal berikanlah dengan sejumlah uang yang sudah disepakati.

Sementara itu, Harwis menjelaskan dalam pendistribusian daging kurban bisa diberikan kepada; fakir miskin, bisa diterima oleh yang berkurban itu sendiri dan bisa diberikan kepada siapa pun sebagai hadiah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar