Qoriah NTB Yuni: Belajar Al-Quran Bukan Karena Lomba

KBRN, Sofifi; 'Dari Mimbar ke Mimbar Tilawah' tidaklah asing bagi sosok Qoriah Yuni Wulandari (26) pelantun seni baca Al-Quran asal Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada perhelatan STQ Nasional XXVI/2021 di Sofifi, sosok muslimah ini pun tampil penuh percaya diri pada Cabang Tilawah Dewasa Putri.

Lazimnya tampil dalam suatu perlombaan, keinginan mengukir prestasi terbaik adalah syah-syah saja, lumrah bila itu menjadi asa dan obsesi bagi setiap peserta. Hal itu terbesit dalam diri Yuni, namun itu bukan menjadi tujuan utama.

Kesyahduannya dalam seni membaca Quran adalah habit dan satu keniscayaan baginya, yang dikarunai oleh Sang Khalik suara penuh talenta, yang tidak dimiliki banyak orang. Apalagi yang dibaca adalah firman Allah yang menjadi Kitab Suci bagi Umat Islam.

"Grogi, ya ada aja, tapi itu awal-awal saja. Setelah itu tidak lagi. Semua diserahkan pada Allah," kata Yuni usai tampil di Mimbar Tilawah di Masjid Raya Sofifi.

Masjid Raya Sofifi Maluku Utara

Talenta yang membawanya menjadi seorang Qoriah itu, keberhasilannya bukan datang begitu saja. Ketika usia di bangku kelas 2 SD, itulah awal seorang Yuni cilik mulai mempelajari tilawah. Proses pembelajarannya ia ikuti dengan sepenuh hati. Yuni kecil saat itu senang-senang saja dan tertarik untuk terus belajar dan belajar menjadi pelantun seni baca Al-Quran.

"Belajar tilawah sudah dari kecil kelas 2 SD. Pas baru dengar guru saya pertama kali bertilawah, saya pun mengikutinya dalam hati. Terasa senang aja gitu. Nah dari situ mulai tertarik dengan tilawah," ungkap Yuni.

Ibarat peribahasa, “Siapa yang menanam, dia yang akan menuai.”  Begitu juga

Yuni Wulandari

dengan Yuni. Proses pembelajaran sedari dini itu berbuah pada prestasi, hingga tak jarang event-event Musabaqah Tilawatil Quran ia ikuti membawa nama daerah NTB hingga hal sama tampil di STQ Nasional XXVI golongan Dewasa Putri. Berhasil tidaknya tentu itu semua takdir Illahi.

"Suka duka nya banyak banget, dulu ikut MTQ dari Tingkat Kecamatan untuk pertama kalinya dan langsung juara 1. Waktu itu saya di kasih hadiah sarung aja, ya seneng. Dalam hati bersyukur; 'ya Allah ada buat kasih bapak saya untuk Solat sambil menangis waktu itu'. Itulah hadiah pertama yang bisa saya kasih buat orang tua," papar Yuni.

Seiring berjalannya waktu, Yuni yang tumbuh dewasa itu pun, masih dilirik oleh LPTQ daerahnya dan kerap kali mewakili NTB pada berbagai Musabaqoh Tilawah Quran hingga ke event nasional. Pengalaman-pengalaman lain pun ia dapatkan, hingga raihan predikat juara.

"Alhamdulillah, senengnya kita dapat belajar pengalaman dari teman-teman, guru-guru yang melatih kita dan kita jadi banyak teman, dapat sahabat yang Insya Allah jadi sahabat dunia akhirat," ujar Yuni penuh syukur.

Dialog Kafilah NTB di Studio Mini RRI Ternate di Sofifi

Yuni yang bersama suaminya menjadi pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ishlah di Lombok Timur itu, kini menularkan segala kemampuan seni Tilawah, Tartil Quran dan kajian keislaman lainnya kepada para santrinya.

"Alhamdulillah sudah banyak yang berhasil. Ada yang sudah ke nasional cabang Tartil Qur'an 10 juz , 1 juz dan 5 juz," ujarnya.

Pesan moral kepada santrinya dan generasi muda sekarang, Yuni mengajak bahwa belajar Alqur'an atau Tilawah harus dilakukan dengan hati yang ikhlas. Karena MTQ/STQ itu hanya ajang lomba, bisa menang atau kalah.

"Jangan belajar karena lomba, jangan baru latihan kalau ada lomba. Jangan karena kita sudah merasa tampil terbaik, lalu kita melupakan Allah. Semangat buat sahabat Qurani. Semoga kita semua selalu dalam Ridho Allah SWT," pungkas Yuni.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00