13 Burung Endemik di Malut Dilepasliarkan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Burung Kakatua Endemik Maluku Utara Sebelum Dilepasliarkan di Stasiun Release Burung Paruh Bengkok, Desa Koli Tidore (Dok: RRI)

KBRN, Ternate: Sebanyak 13 satwa jenis burung kakaktua (Cacatua alba) endemik Maluku Utara (Malut) hasil rehabilitasi suaka paruh bengkok Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dilepasliarkan ke alam bebas.

Pelepasliaran satwa dilindungi tersebut berlangsung di stasiun release burung paruh bengkok, Desa Koli, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan (Tikep), Selasa (27/1/2022).

Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Heri Wibowo mengatakan, pelepasan burung endemik Malut yakni kakak tua putih ini merupakan pelepasan perdana oleh suaka paruh bengkok ditahun 2022 ini.

Heri menyebut, proses rehabilitasi burung memang memakan waktu yang panjang mulai dari 3 bulan, satu tahun hingga dua tahun.

“Jadi tidak hanya menerima kemudian dilepas, tapi memang ada proses yang dilakukan oleh teman-teman, karena biasanya burung yang sudah dipelihara masyarakat proses untuk meliarkan kembali tentunya membutuhkan waktu panjang sehingga memang membutuhkan penanganan oleh tim di swaka paruh bengkok,” ucapnya.

“Di suaka paruh bengkok, ada burung yang kondisinya cacat, jinak dan ada yang mulai liar, kalau mulai liar itu tentunya tidak membutuhkan waktu panjang berbeda dengan burung yang sangat jinak,” tambahnya.

Pelepasliaran 13 burung dengan mengundang sejumlah instansi bahkan pemerintah desa yang dilakukan ini menurutnya, merupakan bagian dari transparansi setelah dilakukan konservasi dan rehabilitasi.

“Biasanya ada yang pertanyakan kondisi pasca ditangkap, dan ini bentuk transparansi kita ke masyarakat dengan melakukan kolaborasi yang tujuannya agar satwa ini bisa kembali kepada alamnya,” akunya.

“Tentunya, alam yang ada ini harus kita jaga mulai dari sekarang sehingga di masa 10, 15 bahkan 30 tahun kedepan kondisinya tidak punah,” harapnya.

Foto Bersama Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dengan Tim Suawaka Paruh Bengkok Lolobata (Dok: RRI)

Koordinator suaka paruh bengkok, As Ari Wahyu Utomo dalam kesempatan tersebut mengatakan, 13 burung endemik Malut yang dilepasliarkan ini sangat beragam mulai dari 

6 ekor sitaan resort Buli SPTN II sejak tahun 2021, 3 ekor asal Limpahan BKSDA Maluku sejak tahun 2019, 2 Ekor asal Translokasi Cikananga sejak tahun tahun 2021, 1 Ekor asal Translokasi BBKSDA Sulawesi Selatan sejak tahun 2021 dan 1 Ekor serahan TNI sejak tahun 2020.

“Dua ekor burung endemik Malut yang diserahkan dari PPS Cikananga ini tentunya melewati perjalanan panjang karena diselundupkan mulai dari Malut ke Jawa dan kemudian kembali lagi ke Malut melalui perjalanan darat dan laut yang tentunya memakan waktu yang panjang,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan, belasan burung yang dilepasliarkan ke alam bebas ini sebelumnya telah dilakukan proses karantina dan pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan di suaka paruh bengkok pada bulan Desember.

“Dan alhamdulillah hari ini burung-burung endemik Malut bisa kita lepas ke habitat aslinya,” jelasnya.

Menurutnya, kegiatan pelepasliaran 13 burung endemik Malut ini adalah bagian dari satwa yang direhabilitasi di suaka paruh bengkok dengan jumlah sebanyak 158 dan sudah dirilis sebanyak 53 ekor.

“Jadi hampir seper tiga, burung yang ada di suaka paruh bengkok sudah kita lepas luarkan secara bertahap, karena keburulan suaka paruh bengkok tidak jauh dengan stasiun releas, sehingga ketika ada yang siap dilepasliarkan meskipun hanya 5 ekor saja akan kita lepas,” tuturnya.

Sementara itu, Burung Indonesia Benny Aladin mengatakan, pelepasliaran burung endemik di Malut yang dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata ini merupakan langkah yang harus didukung karena jumlah populasi burung endemik di Malut sudah mulai berkurang dari tahun ke tahun sesuai dengan hasil riset dari Burung Indonesia yang dilakukan di Malut.

“Yang pasti setiap burung yang dirahabilitasi, ending atau pintu terakhirnya ada di pelepasliaran yang tentunya dilakukan pemantauan meski sudah dilepas, untuk menentukan apakah burung tersebut hidup atau mati, dan apakah bisa bergabung dengan kelompok lain sampai pada berkembang biak,”

“Semoga langkah yang dilakukan ini bisa mengantisipasi jumlah burung endemik yang terancam punah di Malut,” akunya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Koli, Kecamatan Oba, Kota Tikel, Djabid Musa mengatakan, atas nama pemerintah desa di Tikep, dirinya sangat mengapresiasi langkah pelepasliaran burung endemik di Malut yang berlokasi di desa Koli sebagaimana yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata.

“Semoga ini bisa menambah jumlah populasi burung endemik di Malut sehingga tidak mudah punah dirahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar