Pengguna Banyak, Tarik Investasi Zoom dan Tiktok

Foto: ist

KBRN, Jakarta: Anggota Komisi VI DPR RI, Abdul Hakim Bafagih mendorong, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk bisa menarik investasi perusahaan aplikasi yang kini digandrungi oleh masyarakat Indonesia seperti Zoom dan Tiktok. 

Ia mengaku, kecewa lantaran melihat kegagalan Indonesia dalam upaya menarik investasi beberapa raksasa teknologi. Sebab dari sisi pengguna, Indonesia negara yang sangat besar mengunduh, harusnya para perusahaan itu dapat memberikan keuntungan yang besar bagi terhadap pemasukan negara.

"Saya kemarin sedikit nyesek melihat Zoom, Tiktok dan beberapa raksasa teknologi itu tidak bisa investasi di sini. Itu kan kalau dibandingkan dengan singapura baik dari jumlah pengguna, dari jumlah revenue-nya antara Singapura dan Indonesia ini lebih banyak di Indonesia. Nah itu tentunya jadi tamparan secara langsung kepada kita semua khususnya di BKPM," kata Abdul Hakim, Kamis (24/9/2020).

Diketahui, Tiktok dan Faceboo mencatatkan masing-masing 30,7 juta dan 140 juta pengguna di Indonesia. Sementara di Singapura, total jumlah pengguna dua aplikasi itu tak sampai 10 juta. 

Politisi Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini lantas meminta agar pada Tahun Anggaran 2021 mendatang, BKPM mampu menarik investasi keduanya.

"Mudah-mudahan di 2021 karena saya melihat ada dua anggaran yang cukup besar di deputi bidang pelayanan penanaman modal sama pengendalian pelaksanaan penanaman modal yang ini kalau ditotal hampir Rp300 miliar. itu mudah-mudahan kita bisa efektif," jelasnya.

Sehingga, lanjut dia, potensi yang dimiliki oleh negara dapat ditangkap oleh pemerintah untuk memberikan penghasilan yang optimal dan tidak dimanfaatkan negara lain. 

"Jangan sampai kita punya potensi di sini tapi yang ngambil duitnya dari luar itu. Ini jadi catatan tersendiri," tegasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00