Gen Kecerdasan Gurita Miliki Kesamaan dengan Manusia

Gurita. (Foto: Unsplash)

KBRN, Naples: Gurita adalah makhluk cerdas dengan kecerdasan yang canggih, dan sekarang para ilmuwan menemukan petunjuk yang mungkin dapat menjelaskan sebagian kecerdasan luar biasa cephalopoda ini. Temuan tersebut menunjukkan gen gurita memiliki kekhasan genetik yang juga terlihat pada manusia.

Petunjuk yang ditemukan para ilmuwan disebut "gen-gen pelompat," atau transposon, dan mereka membentuk 45% genom manusia. Gen-gen pelompat adalah DNA urutan pendek dengan kemampuan menyalin dan menempel atau memotong dan menempelkan diri ke lokasi lain dalam genom, dan mereka telah dikaitkan dengan evolusi genom pada beberapa spesies. Urutan genetik baru-baru ini mengungkapkan bahwa dua spesies gurita - Octopus vulgaris dan Octopus bimaculoides - juga memiliki genom yang diisi dengan transposon, menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal BMC Biology, 18 Mei.

Pada manusia dan gurita, sebagian besar transposonnya tidak aktif, baik dimatikan karena mutasi atau diblokir dari replikasi oleh pertahanan seluler, menurut laporan peneliti. Tapi satu jenis transposon pada manusia, yang dikenal sebagai Long Interspersed Nuclear Elements atau LINE, mungkin masih aktif. Bukti dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gen LINE pelompat diatur secara ketat oleh otak, tetapi masih penting untuk belajar dan untuk membentuk memori di hippocampus.

Ketika para ilmuwan melihat lebih dekat pada gen pelompat gurita yang dapat dengan bebas menyalin dan menempel di sekitar genomnya, mereka menemukan transposon dari keluarga LINE. Elemen ini aktif di lobus vertikal gurita — bagian otak gurita yang sangat penting untuk belajar dan secara fungsional serupa dengan hippocampus manusia. Penjelasan tersebut diungkap Graziano Fiorito, penulis studi dan ahli biologi di Anton Dohrn Zoological Station (SZAD) di Naples, Italia, seperti dikutip dari Live Science, Sabtu (2/7/2022).

Dalam studi baru, para peneliti mengukur transkripsi satu transposon gurita ke RNA dan mentranslasinya ke protein, dan mereka mendeteksi aktivitas signifikan di area otak yang terkait dengan plastisitas perilaku - yakni bagaimana organisme mengubah perilaku mereka sebagai respons terhadap rangsangan yang berbeda. 

"Kami sangat senang karena ini semacam bukti," kata penulis studi Giovanna Ponte, peneliti di SZAD Department of Biology and Evolution of Marine Organisms.

Fiorito menjelaskan meskipun gurita tidak berkerabat dekat dengan hewan bertulang belakang, mereka tetap menunjukkan plastisitas perilaku dan saraf yang mirip dengan vertebrata. 

"Hewan-hewan ini, seperti mamalia, memiliki kemampuan untuk beradaptasi terus menerus dan memecahkan masalah," katanya. Dan menurutnya, bukti ini mengisyaratkan bahwa kesamaan itu mungkin berasal dari tingkat genetik.

Temuan ini tidak hanya menghubungkan gen pelompat dengan kecerdasan gurita, tetapi juga menunjukkan bahwa transposon LINE melakukan lebih dari sekadar melompat-lompat. Sebaliknya, mereka memiliki beberapa peran dalam pemrosesan kognitif. Karena gen pelompat dimiliki oleh manusia dan gurita, mereka mungkin menjadi kandidat yang baik untuk penelitian masa depan tentang kecerdasan dan bagaimana ia berkembang dan bervariasi antara individu dalam suatu spesies, menurut penelitian tersebut.

Namun, karena gurita cukup jauh dari manusia di pohon kehidupan, ada kemungkinan transposon LINE aktif di kedua kelompok tersebut adalah contoh evolusi konvergen. Ini berarti kontribusi mereka terhadap kecerdasan berkembang secara terpisah dalam dua garis keturunan, daripada berasal dari nenek moyang yang sama.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar