Perangkat Seukuran Baterai Mampu Serap Emisi CO2

Ilustrasi CO2. (Foto: Unsplash)

KBRN, Cambridge: Para peneliti University of Cambridge telah mengembangkan perangkat murah yang dapat secara selektif menangkap gas karbon dioksida saat mengisi daya. Kemudian, ketika dilepaskan, CO2 dapat dilepaskan secara terkendali dan dikumpulkan untuk digunakan kembali atau dibuang secara bertanggung jawab.

Perangkat superkapasitor, yang mirip dengan baterai isi ulang, berukuran sebesar uang logam, dan sebagian dibuat dari bahan ramah lingkungan termasuk batok kelapa dan air laut.

Superkapasitor rancangan peneliti dapat membantu teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon dengan biaya yang jauh lebih rendah. Sekitar 35 miliar ton CO2 dilepaskan ke atmosfer per tahun dan sangat membutuhkan solusi yang dapat menghilangkan emisi ini dan mengatasi krisis iklim. Teknologi penangkapan karbon tercanggih saat ini membutuhkan energi dalam jumlah besar dan mahal, seperti dikutip dari University of Cambridge, Sabtu (21/5/2022).

Superkapasitor ini terdiri dari dua elektroda bermuatan positif dan negatif. Dalam penelitian yang dipimpin Trevor Binford saat menyelesaikan gelar Masternya di Cambridge, tim mencoba tegangan negatif ke positif bergantian untuk memperpanjang waktu pengisian dari percobaan sebelumnya. Ini meningkatkan kemampuan superkapasitor untuk menangkap karbon.

"Kami menemukan bahwa dengan tegangan arus perlahan-lahan bolak-balik di antara pelat, kami dapat menangkap dua kali lipat jumlah CO2 dari sebelumnya," kata Dr Alexander Forse dari Yusuf Hamied Department of Chemistry University of Cambridge, yang memimpin penelitian ini.

Superkapasitor mirip dengan baterai yang dapat diisi ulang tetapi perbedaan utamanya adalah bagaimana kedua perangkat menyimpan muatan. Baterai menggunakan reaksi kimia untuk menyimpan dan melepaskan muatan, sedangkan superkapasitor tidak bergantung pada reaksi kimia. Sebaliknya, ia bergantung pada pergerakan elektron antarelektroda, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk terdegradasi dan memiliki umur yang lebih panjang.

"Pertukarannya adalah superkapasitor tidak dapat menyimpan muatan sebanyak baterai, tetapi untuk sesuatu seperti penangkapan karbon, kami akan memprioritaskan daya tahan," kata rekan penulis Grace Mapstone. “Bagian terbaiknya adalah bahan yang digunakan untuk membuat superkapasitor murah dan melimpah. Elektrodanya terbuat dari karbon, yang berasal dari limbah tempurung kelapa."

"Kami ingin menggunakan bahan yang lembam, yang tidak merusak lingkungan, dan yang lebih jarang kita buang. Misalnya, CO2 larut ke dalam elektrolit berbasis air yang pada dasarnya adalah air laut."

Namun, superkapasitor ini tidak menyerap CO2 secara spontan: ia harus diisi untuk menarik CO2. Ketika elektroda menjadi bermuatan, pelat negatif menarik gas CO2, sementara mengabaikan emisi lain, seperti oksigen, nitrogen, dan air, yang tidak berkontribusi pada perubahan iklim. Dengan menggunakan metode ini, superkapasitor menangkap karbon dan menyimpan energi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar