Bias Pemahaman Menghalangi Beralih ke Mobil Listrik

Mobil listrik sedang mengisi bahan bakar baterai. (Foto: Unsplash)

KBRN, Jenewa: Pangsa pasar yang bersedia mengadopsi mobil listrik masih mengalami hambatan, meskipun hambatan finansial dan teknologi utama telah dihilangkan. Dalam penelitian tim University of Geneva (UNIGE) yang menyelidiki faktor pemahaman yang masih menghalangi banyak orang untuk beralih ke mobil listrik, mereka menemukan bahwa pemilik mobil secara sistematis meremehkan kapasitas jarak tempuh mengemudi mobil listrik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. 

Peningkatan gas rumah kaca (GRK) di atmosfer merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Di antara GRK adalah karbon dioksida - CO2 - di mana sektor transportasi merupakan salah satu penghasil emisi utama. Kendaraan bahan bakar fosil menyumbang hampir 18% dari emisi CO2 global. Oleh karena itu, elektrifikasi armada kendaraan menjadi salah satu tantangan utama transisi energi.

Jumlah kendaraan listrik meningkat di banyak negara. Namun, mereka masih jauh dari memiliki pangsa pasar yang memungkinkan pengurangan signifikan dalam emisi lalu lintas jalan. Pada tahun 2020, mereka hanya mewakili 1% dari armada kendaraan global, termasuk kendaraan hibrida. Untuk memenuhi target iklim 2030, proporsi ini harus mencapai setidaknya 12%, seperti dikutip dari University of Geneva, Sabtu (21/5/2022).

Sekarang setelah hambatan keuangan dan teknologi utama telah dihilangkan (harga beli lebih terjangkau, insentif keuangan, jaringan stasiun pengisian yang lebih banyak), faktor-faktor apa yang masih menghalangi adopsi moda transportasi ini secara luas? Sebagian besar jawabannya terletak pada bias pemahaman dan jalan pintas para pengemudi mobil.

“Hingga saat ini, inisiatif terkait transisi energi umumnya terfokus pada hambatan teknologi dan finansial dalam realisasinya. Faktor psikologis sangat sedikit diberikan pertimbangan. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa individu tidak secara otomatis mengadopsi perilaku yang paling bermanfaat bagi diri mereka sendiri atau masyarakat, seringkali karena kurangnya akses ke informasi yang lengkap,” jelas Mario Herberz, penulis pertama studi dan peneliti di Consumer Decision and Sustainable Behavior Laboratory, Department of Psychology pada Faculty of Psychology and Educational Sciences UNIGE.

Dengan mewawancarai lebih dari 2.000 pengemudi mobil dari berbagai latar belakang dan usia di Jerman dan Amerika Serikat, para ilmuwan UNIGE mengidentifikasi sumber bias kognitif yang menahan mereka untuk mengadopsi kendaraan listrik. 

“Kami mengamati bahwa para peserta secara sistematis meremehkan kompatibilitas kapasitas baterai listrik yang tersedia di pasar saat ini dengan kebutuhan nyata mereka,” kata Tobias Brosch, Direktur Consumer Decision and Sustainable Behavior Laboratory dan penulis penelitian tersebut.

Dengan kata lain, konsumen meyakini secara salah bahwa baterai saat ini tidak cukup untuk menutupi perjalanan mereka sehari-hari. Peremehan ini sangat besar, para peneliti memperkirakan sekitar 30%. 

“Untuk meyakinkan orang, solusinya tidak hanya memperkuat jaringan stasiun pengisian atau menambah ukuran baterai, yang membutuhkan sumber daya yang lebih langka seperti lithium dan kobalt. Penyediaan informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata pengemudi akan mengurangi kekhawatiran mereka dan meningkatkan keinginan mereka untuk mengadopsi kendaraan listrik, ”jelas Mario Herberz.

Tim peneliti menemukan bahwa lebih dari 90% perjalanan mobil dapat diselesaikan dengan kendaraan dengan kemampuan tempuh 200 kilometer, jarak yang paling jauh di antara baterai yang tersedia saat ini. 

“Trennya adalah meningkatkan kinerja, tetapi kami telah mengamati bahwa jangkauan yang lebih jauh, di atas 300 km misalnya, tidak meningkatkan kesesuaian untuk kebutuhan sehari-hari. Itu hanya akan berdampak minimal pada jumlah perjalanan tambahan yang dapat diselesaikan dengan satu muatan listrik. Oleh karena itu, memperbesar ukuran baterai bukanlah elemen kunci dalam transisi energi,” kata Mario Herberz.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar