Ini Buktinya Kota Sodom Diluluhlantakkan Dua Meteor?

(Nature)
(Nature)

KBRN, Arizona: Hari yang dijalani para penghuni kota kuno Tall el-Hammam pada saat itu mungkin sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun, hanya dalam hitungan menit akan berubah drastis, karena dua buah batu meteor dari luar angkasa - satu berdiameter 60 meter, lainnya 75 meter - secara beriringan memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi menuju kawasan yang berada di lembah Yordan. Keduanya membara, terbakar di udara akibat panas yang dihasilkan dari gesekan dengan udara, menghasilkan panas yang berlipat-lipat dalam bentuk pijaran bola api besar.

Sesaat melaju mendekati bumi dengan kemiringan 45°, meteor pertama meledak di udara di ketinggian 4,7 km dengan kekuatan 12 megaton. Sebagai pembanding, kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima-Nagasaki ada pada rentang 12-16 kiloton. Ledakan meteor tersebut menggetarkan udara sekitarnya dan menghasilkan gelombang angin yang melesat dengan kecepatan 917 km/jam saat berjarak 5 km dari Tall el-Hammam, sebuah kawasan berpenghuni yang terkena imbas luar biasa parah dari meteor ini.

Itu belum usai. Bola api dari meteor kedua menyusul meledak di ketinggian 1,3 km dan menggetarkan udara di sekelilingnya dengan hantaman berkekuatan 23 megaton. Gelombang angin berkecepatan hingga 1.200 km/jam tiba-tiba melesat saat berada di jarak yang sama, 5 km dari Tall el-Hammam, mengalahkan kecepatan seluruh tornado kategori tertinggi yang ada.

Ledakan dua bola api itu membesar hingga berukuran 1 km, dengan suhu di dalam intinya meningkat drastis mencapai 300.000° C, melebihi panasnya permukaan matahari (5.500° C). Ketika meledak, keduanya memancarkan sinar panas berkilau, dengan kecepatan radial gelombang melebihi kecepatan suara (1.225 km/jam), membuat benda-benda silikat, logam, dan lainnya yang berada di bumi meleleh seketika, sekitar 20 detik.

Seluruh makhluk hidup yang berada di lintasan ledakan dua meteor ini tidak ada yang selamat.  Suhu di atas 150° C dianggap mematikan bagi manusia, dan menyebabkan tingkat kematian hampir 100% pada manusia yang terpaparnya.

Di Jericho, dampak yang parah juga terasa. Berjarak 15 km dari pusat ledakan udara bola api berdiameter 75 m, kecepatan angin topan Kategori-3 mendarat di wilayah tersebut mencapai 216 km/jam. Pada bola api berdiameter 60 m, kecepatan angin mencapai 237 km/jam, setara dengan tornado EF-3 dan cukup kuat untuk menggeser dan meruntuhkan dinding bata lumpur.

Ini mungkin mirip cerita fiksi katastrofe dalam film Hollywood. Tapi ini merupakan reka ulang para peneliti dari Northern Arizona University, Elizabeth City State University, New Mexico Institute On Mining & Technology, bersama sejumlah peneliti dari institusi lainnya terhadap kehancuran kawasan Tall el-Hammam (TeH) yang berada di dekat Laut Mati, Timur Tengah, pada 3.600 tahun yang lalu dengan menggunakan Impact Calculator dan hasil ekskavasi di kawasan tersebut, seperti dikutip dari Nature, Minggu (26/9/2021).

Meskipun tidak secara langsung merujuk peristiwa ini sebagai kejadian penghancuran Kota Sodom, para peneliti mengangkat bukti yang disampaikan dari cerita mulut-ke-mulut dan muncul dalam literatur agama.

"Mengenai ledakan di udara yang disampaikan ini, deskripsi dari saksi mata terhadap peristiwa bencana berusia 3.600 tahun ini mungkin telah diturunkan sebagai tradisi lisan yang akhirnya masuk catatan alkitabiah tentang penghancuran Sodom," ungkap para peneliti dalam laporannya. 

"Tidak ada tulisan kuno atau kitab-kitab dalam Alkitab, selain pada Kitab Kejadian, yang menjelaskan apa yang dapat ditafsirkan sebagai penghancuran kota oleh peristiwa ledakan/benturan," tambah penjelasan peneliti. 

Bukti-bukti kehancuran tersebut muncul dalam berbagai bentuk fakta arkeologi di lapangan, seperti butiran kuarsa kejut yang terbentuk akibat tekanan; tembikar yang meleleh pada  suhu lebih dari  1.500° C; bata lumpur dan atap tanah liat yang meleleh pada suhu lebih dari 1.400° C; kemunculan konsentrasi garam yang tinggi dalam sedimen, termasuk lelehan KCl dan NaCl yang bercampur dalam batu bata lumpur yang meleleh; karbon seperti intan (diamonoids) yang terbentuk pada tekanan dan temperatur tinggi; serta jelaga, arang dan abu, yang menunjukkan kebakaran bersuhu tinggi.

"Kami menyimpulkan bahwa satu-satunya mekanisme pembentukan yang masuk akal yang dapat menjelaskan seluruh rentang bukti adalah dampak pembentukan kawah atau ledakan udara kosmik, kemungkinan besar agak lebih besar daripada ledakan udara 22 megaton di Tunguska, Siberia pada tahun 1908," jelas para peneliti.

"Data juga mengungkapkan sebuah ledakan udara terjadi beberapa kilometer barat daya Tall el-Hammam yang menyebabkan, secara berurutan, pulsa termal bola api bersuhu tinggi yang melelehkan bahan-bahan yang terbuka, termasuk atap tanah liat, batu bata lumpur, dan tembikar. Ini diikuti oleh gelombang ledakan berkecepatan tinggi yang menghancurkan dan meruntuhkan dinding bata lumpur di seluruh kota, meratakan kota, dan menyebabkan kematian manusia yang luas," kata mereka. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00