Temuan Bercak Awan di Planet Ekstrasurya Jauh

(Europlanet)

KBRN, Granada: Sebuah tim astronom internasional tidak hanya mampu mendeteksi awan di planet ekstrasurya WASP-127b yang jauh, tetapi juga mengukur ketinggiannya dengan presisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Presentasi oleh Dr. Romain Allart di Europlanet Science Congress (EPSC) 2021 menunjukkan, dengan menggabungkan data dari teleskop luar angkasa dan teleskop darat, bagaimana tim mampu mengungkap struktur atmosfer planet. Ini membuka jalan bagi studi serupa dari banyak dunia lain yang jauh.

WASP-127b, terletak lebih dari 525 tahun cahaya, adalah "Saturnus panas"—planet raksasa yang massanya mirip dengan Saturnus yang mengorbit sangat dekat dengan mataharinya. Tim mengamati planet yang lewat di depan bintang induknya untuk mendeteksi pola yang tertanam dalam cahaya bintang saat disaring melalui atmosfer planet dan diubah oleh unsur kimia. Dengan menggabungkan pengamatan inframerah dari Teleskop Luar Angkasa Hubble (HST) ESA/NASA dan pengukuran cahaya tampak dari spektrograf ESPRESSO di European Southern Observatory's Very Large Telescope di Chili, para peneliti dapat menyelidiki berbagai wilayah atmosfer. Hasilnya membawa beberapa kejutan.

"Pertama, seperti yang ditemukan sebelumnya di planet jenis ini, kami mendeteksi keberadaan natrium, tetapi pada ketinggian yang jauh lebih rendah dari yang kami perkirakan. Kedua, ada sinyal uap air yang kuat di inframerah tetapi tidak ada sama sekali pada panjang gelombang yang terlihat. Ini menyiratkan bahwa uap air di tingkat yang lebih rendah disaring oleh awan yang buram pada panjang gelombang yang terlihat tetapi transparan dalam inframerah," kata Allart, dari iREx/Université de Montréal dan Université de Genève, yang memimpin penelitian, seperti dikutip dari situs Europlanet, Jumat (24/9/2021).

Data gabungan dari dua instrumen memungkinkan para peneliti untuk mempersempit ketinggian awan ke lapisan atmosfer dengan tekanan berkisar antara 0,3 dan 0,5 milibar.

"Kami belum mengetahui komposisi awan, kecuali bahwa mereka tidak terdiri dari tetesan air seperti di Bumi," kata Allart. 

"Kami juga bingung mengapa natrium ditemukan di tempat yang tidak terduga di planet ini. Studi masa depan akan membantu kita memahami tidak hanya lebih banyak tentang struktur atmosfer, tetapi tentang WASP-127b, yang terbukti menjadi tempat yang menarik."

Dengan orbit penuh di sekitar bintangnya yang terjadi dalam waktu sekitar empat hari, WASP-127b menerima penyinaran 600 kali lebih banyak daripada Bumi dan mengalami suhu hingga 1100 derajat Celcius. Ini membengkakkan planet hingga radius 1,3 kali lebih besar dari Jupiter, dengan hanya seperlima dari massa, menjadikannya salah satu planet ekstrasurya yang paling tidak padat atau "paling lembut" yang pernah ditemukan.

Sifat eksoplanet yang mengembang membuatnya lebih mudah untuk diamati, dan dengan demikian WASP-127b adalah kandidat ideal untuk peneliti yang mengerjakan karakterisasi atmosfer.

Pengamatan tim dengan instrumen ESPRESSO juga menunjukkan bahwa, tidak seperti planet di Tata Surya kita, WASP-127b mengorbit tidak hanya dalam arah yang berlawanan dari bintangnya tetapi juga di bidang yang berbeda dari khatulistiwa.

"Penjajaran seperti itu tidak terduga untuk Saturnus yang panas di sistem bintang lama dan mungkin disebabkan oleh pendamping yang tidak diketahui," kata Allart. "Semua karakteristik unik ini membuat WASP-127b menjadi planet yang akan dipelajari dengan sangat intensif di masa depan."

Echelle SPectrograph for Rocky Exoplanets and Stable Spectroscopic Observations (ESPRESSO) adalah spektrograf paling presisi di dunia untuk pengukuran kecepatan radial, sebuah metode yang memungkinkan untuk mendeteksi planet ekstrasurya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00