Pemotor Vietnam Masih Lebih Suka Helm Batok

Para pemotor di jalanan kota Hanoi, Vietnam, sebagian besar masih lebih suka memakai helm batok yang tidak sepenuhnya menutup wajah dan kepala. (Foto: M. Kusnaeni/RRI)

KBRN, Hanoi : Di Vietnam, merupakan pemandangan biasa bila jalanan dikuasai para pemotor. Mereka pun tertib memakai helm, tapi lebih suka yang berbentuk batok dan itu legal.

Bagi kebanyakan orang asing, pemandangan pemotor memakai helm batok itu mengherankan. Sebab memberi kesan kurang aman di tengah kebiasaan bermotor warga setempat yang kadang seenaknya.

Tapi begitulah faktanya. Dari sekitar 60 juta pemotor di Vietnam--data tahun 2020--sekitar 85 persen memilih helm batok ketimbang helm fullface.

Rupanya ada anggapan yang tidak sepenuhnya tepat tentang hal ini. Di Vietnam, helm full face sering dituding sebagai penyebab jatuhnya pemotor di jalan akibat kekurangan oksigen. 

"Maklum cuaca di Vietnam terutama bagian selatan seperti Ho Chi Minh City sangat panas," Nguyen Tuan Ahn, pekerja kantoran di Hanoi, menjelaskan. "Pada siang hari bahkan bisa mencapai 40 derajat Celsius. Bayangkan, betapa sesak napasnya kalau pakai helm yang menutup wajah."

Menimbang hal tersebut, pemerintah Vietnam akhirnya mengizinkan pemakaian helm open face. Namun, demi keselamatan, dilakukan pembatasan laju kendaraan di jalan.

Di "Negeri Paman Ho", sepeda motor dibatasi lajunya hanya 40 km/jam. Bagi yang melanggar, akan didenda VND 10 juta (setara Rp 6,7 juta) atau hukuman penjara.

Aturan pembatasan kecepatan dan kewajiban pakai helm itu dikenal sebagai Resolusi 32. Aturan ini merespons masih tingginya angka kematian di jalan akibat kecelakaan, khususnya yang dialami para pemotor.

Pada saat bersamaan, kampanye pemakaian helm yang lebih menutupi kepala juga terus digalakkan. Toko-toko helm juga menawarkan lebih banyak model, terutama jenis full face.

Namun demikian, penjualan helm batok tetap lebih laris. Maklum hanya VND 100-200 ribu, sepertiga harga helm full face.*

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar