Sepeda Listrik dari NTB

Sepda listrik Le-Bui.(Dok.Ist)

KBRN, Mataram: Kegiatan bersepeda menuju tatanan kehidupan normal menjadi pilihan masyarakat di banyak daerah Indonesia belakangan hari ini. Namun, tidak banyak orang Indonesia menciptakan atau merakit sepeda dengan tenaga listrik. Peluang itu dimanfaatkan oleh seorang pemuda Nusa Tenggara Barat (NTB) bernama Gede Sukarmati dengan menciptakan Le-Bui.

Kendaraan dengan berbagai model ini membuat bangga masyarakat dan pemerintah Provinsi NTB. Bagaimana tidak, sepeda hasil karya tangan kreatif Gede Sukarmati Jaya itu, sudah tembus pasar internasional.

Gede, saat ditemui RRI, Jumat (26/6/2020) mengatakan ratusan unit Le-Bui sudah dipasarkan di mancanegara.

“Hanya negara negara di Benua Afrika yang belum bisa menikmati karya saya ini,” kata Gede.

Selain itu, ratusan sepeda listrik diinisiasi sejak tahun 2016 itu, kata di, telah dinikmati para sepeda listrik di banyak dunia. Dia menceritakan awal mula gagasan membuat sepeda listrik itu.

“Awalnya, pembuatan sepeda listrik ini diilhami oleh hobinya waktu kecil, yaitu sepedaan. Namun karena usia, saya tidak bisa lagi sepedaan dengan jarak tempuh jauh. Sehingga, muncullah ide bagaimana agar tetap bisa sepedaan dengan jarak tempuh jauh,” ungkap Gede.

Selain itu, dia juga mengatakan juga melakukan riset sebelum menciptakan sepeda listrik. Sebab, dia mengaku sempat melakukan banyak pencarian informasi melalui teknologi internet.

"Saya googling, tanya-tanya teman, bagaimana saya tetap bisa sepedaan jauh dan tidak membosankan. Ketemulah dengan yang namanya elektric kit. Yaitu mengubah sepeda yang kita beli di toko kemudian kita pasang elektric kitnya, kemudian kita bisa sepedaan jauh," ujar dia.

Kemudian, seiring dengan waktu, ditambah dengan hasil diskusi bersama anggota komunitas, ia kemudian menambah kemampuan berinovasi pada sepeda itu. Termasuk, menambah kecepatan sepeda listrik.

"Sepeda yang kita beli di toko itu harus kita bikinkan prime costume. Sehingga, bisa menampung baterai berkapasitas besar. Saya coba bikin, sudah jadi, saya iseng-iseng pakai, bikin video di jalan, upload ke media sosial saya. Orang-orang luar kemudian melihat dan mereka suka, karena unik," terang Gede.

Tapi, ia mengaku, sepeda listrik Le-Bui bukan kreasi pertama dan terbaik bagi orang luar. “Namun mereka melihat ada keunikan. Seperti style, cara mewarnai dan cara pembuatan yang masih handmade,” ucap dia.

Meski sudah terbilang sukses menciptakan Le-Bui, Gede tidak merasa tinggi hati. Menurut dia, sepeda listrik Le-Bui masih terbilang sebuah karya seni yang dinikmatinya.

"Kalau bicara teknologi, tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Tapi kalau bicara masalah seni, tidak ada yang mampu mengalahkan kita," ungkapnya.

Keunikan itulah, diakuinya pula mambuat orang tertarik. “Tidak kurang dari seratus unit sepeda listrik sudah saya ekspor ke luar negeri. Seperti negara-negara di Benua Asia, Amerika dan Australia,” tegas Gede.

Menurut Gede, untuk membuat satu sepeda listrik itu, membutuhkan waktu sekisar satu bulan. Sebab, kata dia, mulai dari proses awal hingga dapat dipakai membutuhkan waktu tidak sebentar. Saat ini, Gede membandrol per unit Le-Bui sekisar Rp15 juta.

"Kemampuan mesin 350 Watt, baterai 40 volt, kecepatan maksimum, kalau di barat orang mengatakan street legal. Masih boleh di jalan, tanpa harus surat-surat. Kecepatannya di bawah 30 km/jam," papar dia.

Saat ini, ia berharap pembuatan sepeda ini dapat didukung oleh teknologi modern dan dapat menghasilkan produk sepeda banyak dan berkualitas, serta harga produksi murah.

Respons Pemerintah

Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, Jumat (26/6/2020) melakukan uji coba sepeda tersebut di STI Park Banyumulek. Sepeda tersebut mampu menempuh jarak 30 Kilometer untuk sekali pengisian daya, sekitar dua sampai empat jam.

“Kehadiran sepeda listrik, motor listrik dan mobil listrik menunjukkan bahwa anak anak NTB memiliki kemampuan selama ini tidak disadari banyak orang,” kata Zulkieflimansyah di NTB.

Apalagi, kata dia, ide dan gagasan besar itu muncul di tengah musibah pandemi Covid-19. Bahkan kata Bang Zul, musibah COVID-19 ini merupakan bencana yang menghadirkan keberkahan.

"Sejatinya pembangunan itu adalah sebuah proses besar untuk me-upgrade human capacity, upgrade kemampuan masyarakat. Alhamdulillah corona ini adalah satu bencana yang menghadirkan keberkahan buat NTB sehingga masyarakat NTB sadar bahwa banyak kemampuan yang kita miliki yang tersimpan di bawa karpet selama ini," ujar Zul.

Munculnya berbagai inovasi seperti ini, lanjut dia, menyadarkan banyak pihak bahwa anak NTB dapat memproduksi minyak kelapa, bikin sabun, bikin motor listrik, alat pelindung kesehatan, dan berbagai inovasi lainnya. 

"Oleh karena itu, tugas pemerintah adalah membantu, menghidupkan UMK ini, menghasilkan feedback yang konstruktif untuk kemudian menghasilkan produk yang kompetitif, bukan hanya untuk NTB. Tetapi akan kita jual di seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia," kata Zul.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00