Potensi Energi Terbarukan Bengkulu Capai 7.297 Megawatt

Ilustrasi energi terbarukan.(Dok.Ist)

KBRN, Bengkulu: Potensi energi terbarukan Provinsi Bengkulu mencapai 7.297 Megawatt (MW), atau 7.2 Gigawatt (GW). Namun, sementara ini baru dimanfaatkan sebesar 259 MW didominasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Program Manager Energy Transformation Institute for Esential Service Reform (IESR), Jannata Giwangkara mengatakan potensi energi terbarukan Indonesia belum dikembangkan optimal. Itu bila dibandingkan negara ASEAN lainnya, terutama Vietnam. 

"Cina saja contohnya, mampu membangun 65 GW dalam setahun. Kapasitas ini setara dengan seluruh pembangkit di Indonesia,” kata Jannata dalam diskusi bertema "Beban Listrik, Potensi Energi Bersih dan Perluang Desentralisasi Energi" yang digelar secara virtual oleh Yayasan Kanopi Hijau Indonesia, Jumat (19/6/2020).

Berdasarkan studi yang dilakukan pada 2018 itu, potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 431.745 Megawatt, namun kapasitas terpasang atau sementara dimanfaatkan untuk listrik hanya 6.830 Megawatt.

"Bahkan secara umum dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Bengkulu telah membangun 3 GW energi terbarukan," ucap Jannata.

Sementara secara global di seluruh dunia pada 2009-2019 rata-rata pembangkit listrik ditambahkan, dan itu  lebih besar energi terbarukan.

"Khususnya tenaga surya, angin dan air. Termasuk negara terdepan mengembangkan energi surya adalah Cina, India, Amerika dan Jerman," ugkap dia.

Senada dengan Jennata, Dosen Fakultas Teknik Universitas Bengkulu, Khairul Amri mengatakan, pengembangan energi listrik di Bengkulu harus diarahkan menuju energi terbarukan.

Sebab, dia menilai potensi tinggi sekaligus pertimbangan pelestarian lingkungan hidup. Namun, menjadi tantangan adalah teknologi Indonesia tertinggal dari negara lain seperti Cina dan India.

“Di sini pemerintah perlu berperan untuk mendukung pengembangan teknologi yang fokus pada pengembangan energi terbarukan,” kata Khairul.

Proyeksi dari ESDM untuk periode 2019-2035, lanjut Khairul, Indonesia akan membutuhkan listrik sebesar 173 GW. "Itu dari sumber listrik fosil PLTU batu bara mencapai 51 GW, dan PLTGU 61 GW," terang dia. 

Sementara, tenaga air sebesar 34 GW, dan panas bumi 9 GW.

"Jadi, total EBT baru 50 GW. Artinya, dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, pembauran energi terbarukan hanya 30 persen dari total pembangkit secara nasional," ujar Khairul.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bengkulu Sumardi menyampaikan, kebijakan pembangunan energi tersentralisasi di Pemerintah Pusat. Tapi, kata dia, itu membuat legislatif sulit megontrol kebijakan pengembangan energi di daerah.

“Kebijakan secara nasional harusnya menutup pintu untuk pembangkit yang merusak lingkungan, seperti PLTU batu bara. Dan (lebih baik, red) mengembangkan energi yang dampak lingkungannya tidak terlalu besar,” kata Sumardi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00