Pengelolaan Sampah RDF Mulai Dicanangkan di NTB

Ilustrasi pengelolaan sampah RDF.(Dok.Ist)

KBRN, Mataram: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai konsentrasi dalam menyikapi persoalan sampah. Pengelolaan sampah dengan metode Refuse Derived Fuel (RDF) adalah salah satu ikhtiar yang ditempuh dalam menyikapi persoalan sampah di NTB. 

"Refuse Derived Fuel (RDF) sendiri merupakan salah satu teknik penanganan sampah dengan mengubah sampah menjadi bahan bakar," kata Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah saat rapat terkait kondisi dan rencana tindak lanjut pengelolaan sampah dengan metode Refuse Derived Fuel (RDF) di Ruang Rapat Anggrek, Rabu (17/6/2020).

Pemaparan RDF itu, dipaparkan langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Madani Mukarom. Sitti menekankan supaya program unggulan pemerintah provinsi harus terus dikerjakan.

"Karena beberapa program unggulan tersebut mendukung kesiapan NTB untuk menuju tatanan kehidupan baru. Oleh karena itu, program unggulan NTB harus memiliki produktivitas yang jelas dalam setiap penanganan dan target yang ingin dicapai," ucap dia.

Kondisi menuju tatanan kehidupan baru, atau new normal saat ini, kata dia, zero waste.

"NTB Hijau tidak dapat dipisahkan. Karena kita butuh kehidupan yang sehat, tentunya dengan bebas sampah, dan lingkungan yang sehat," tegas Sitti.

Evaluasi, lanjut dia, secara terus menerus dan berulang. "Berbagai program tersebut segera terealisasikan," ucap dia.

Menurut dia, fasilitas umum, fasilitas sosial, pantai dan sungai merupakan tolok ukur sehingga lebih diperhatikan lagi.

"Meskipun pengelolaan sampah berjalan, tetapi jika lingkungan sekitar tidak mendukung maka emosional masyarakat dan keterlibatan masyarakat juga tidak akan terbangun," ujar dia.

Oleh karena itu, demi mewujudkan NTB Zero Waste dan NTB Hijau memerlukan gotong royong dan sinergi berbagai pihak. Khususnya pada wilayah wilayah yang menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi. 

"Saya minta ke depannya untuk bekerja tepat sasaran dan dapat bermanfaat besar bagi masyarakat NTB," tegas dia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Madani Mukarom memaparkan terkait program RDF tersebut. Metode ini juga akan mulai dikembangkan di berbagai desa di NTB dengan ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Madani menjelaskan tahapan proses RDF. Itu, kata dia, dimulai dari panen sampah yang masuk ke TPA Kebun Kongok. Sampah akan dipilah sebagian besar berasal dari daun, ranting, dan plastik. Proses pengerjaannya selama satu hari. 

"Kemudian selama 5 hari dilakukan proses peuyeumisasi dan dilanjutkan dengan proses pencacahan, barulah sampah tersebut menjadi pelet," ujar dia.

Di akhir rapat, dia mengungkapkan akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pembuatan RDF tersebut. Khususnya, dengan PLTU Jeranjang, TPA Kebun Kongok dan pihak STIP Banyumulek terkait alat dan mesin.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00