Industri Otomotif Keluhkan Pemasaran dan Produksi Selama COVID-19

KBRN, Jakarta: Wabah pandemi global virus COVID-19 memberikan dampak pada seluruh sektor kegiatan, termasuk juga dengan dunia industri otomotif.  

Tidak jarang, para pelaku industri otomotif melakukan berbagai upaya untuk dapat tetap menjalankan pemasaran produk industrinya dengan memanfaatkan media digital. Salah satunya dilakukan dari industri otomotif PT Toyota Astra Motor (TAM).

Meski telah melakukan upaya pemasaran melalui media digital, Direktur Pemasaran PT TAM, Anton Jimmi Suwandy mengatakan bahwa langkah tersebut tidak serta-merta memberikan kepuasan konsumen dan pemasukan perusahaan secara utuh.

Sebab menurutnya adapun kebutuhan pemenuhan kepuasan konsumen atau pelanggan untuk melihat dan melakukan pengetesan secara langsung akan produk mobil besutan Jepang itu tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan ditengah pencegahan penyebaran virus COVID-19.

“Memang jujur kalau saya katakan, kalau bisa menggantikan 100 persen rasanya tidak juga. Mau bagaimana pun mereka butuh lihat langsung, pegang langsung, dan test drive langsung. Dan ini yang tidak bisa kami lakukan sekarang,” ujar Anton dalam keterangannya, Jakarta (16/5/2020).

Akan tetapi Ia menilai bahwa meski penyebaran dan penularan wabah virus COVID-19 masih terjadi hingga saat ini, cara yang tepat bagi pelaku dunia industri dalam memasarkan produk-produknya yakni dengan melalui penyajian produk berupa digital.

“Semua merek saya rasa tidak bisa menghindari, komunikasi digital akan jadi new normal ke depannya,” katanya.

Ia mencontohkan bahwa pihaknya pernah melakukan pemasaran produk terbaru saat melaunching produk Agya secara digital, yang dinilainya cukup efektif dan efisien. 

“Belajar dari launching Agya, rasanya kemasan dari digital communication bisa jadi bagian penting dari launching produk baru. mereka juga bisa mendapatkan informasi lebih cepat, namun juga efisien dan efektif," pungkasnya.

Sementara itu, produsen mobil asal India, Mahindra dan Tata Motors juga mengakui akan adanya kesulitan perusahaanya untuk pendistribusian suku cadang selama pandemi COVID-19.

Dalam keterangan resminya yang dilansir Reuters, Pimpinan Divisi Sales dan Marketing Mahindra&Mahindra, Veejay Ram Nakra pada awal Maret silam mengungkapkan, bahwa ketersediaan suku cadang buatan penyuplai asal China mulai berkurang, sehingga mengakibatkan terhentinya produksi serta kesulitan alur transportasi dari dan menuju negara itu.

"Memasuki periode Maret kami mengantisipasi keterbatasan suku cadang dalam beberapa pekan ke depan, sebelum kondisi berangsur normal," ujar Veejay Ram Nakra.

Tidak hanya itu, bahkan produsen otomotif kelas menengah keatas, Mazda mengalami anjloknya penjualan disaat pandemi COVID-19. Dalam lansiran Reuters, Mazda Motor Corporation dikabarkan harus mencari pinjaman lunak kepada tiga bank lokal di negaranya.

Ketiga bank besar yang dimaksud adalah Mitsubishi UFJ Financial Group, Sumitomo Mitsui Financial Group, dan Mizuho Financial Group. Mazda berharap dari pinjaman ketiga bank tersebut, mendapatkan kucuran dana pinjaman sebanyak 300 miliar yen atau setara Rp42 triliun sebagai harapan roda bisnis perusahaan bisa kembali menapak normal.

Namun saat coba dikonfirmasi, media bisnis Nikkei terkait informasi yang beredar, tak ada satupun perwakilan Mazda yang angkat bicara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00