Roket China Long March-58 Diduga Pecah di Angkasa

Roket China Long March-58.jpg

KBRN, Jakarta: Setelah melakukan peluncuran pada minggu lalu, roket China Long March-5B diduga pecah. Hal itu dilaporkan karena terdapat puing-puing yang berjatuhan di desa-desa Afrika.

Dilansir dari Forbes pada Kamis(14/05/2020), setidaknya ada 2 desa di Pantai Gading yang telah kejatuhan puing-puing roket China tersebut. Diketahui sebelumnya memang pada Selasa (05/05/2020) lalu, roket Long March-5B diluncurkan dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang di provinsi Hainan, China Selatan.

Roket ini adalah kapsul awak eksperimental, yang dirancang agar suatu hari dapat membawa manusia ke luar angkasa dan mungkin ke Bulan. Skenarionya, pesawat tidak berawak itu naik hingga 8.000 kilometer lalu masuk kembali dengan kecepatan tinggi ke Bumi dan mendarat.

Sementara saat diberitakan Forbes, misi demonstrasi ini mirip dengan NASA Exploration Flight Test-1 (EFT-1) dari pesawat ruang angkasa Orion tahun 2014. Namun tak lama setelah peluncuran, entri ulang yang melibatkan inti roket berbobot hampir 18 ton, tidak terkendali.

Ini merupakan objek entri ulang terbesar yang tidak terkendali sejak stasiun ruang angkasa Salyut-7 Uni Soviet pada 1991 dengan berat 39 ton. Laporan berdatangan bahwa beberapa puing telah jatuh di Pantai Gading. Foto yang diunggah di media sosial pun menunjukkan pipa sepanjang 12 meter dari roket mendarat di tanah.

Sedabgkan menurut Jonathan McDowell, seorang astronom di Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian mengatakan, puing-puing yang berjatuhan di desa-desa itu berasal dari roket, berdasarkan waktu kejadian dan lokasi yang terletak di bawah jalur roket.

"Saya menyimpulkan benda-benda itu terlihat di Mahounou, dan setidaknya beberapa benda lain di wilayah Pantai Gading yang fotonya beredar di Afrika, sangat mungkin bagian dari roket China," tulisnya di Twitter.

Laporan warga setempat menyatakan, pipa itu jatuh di bangunan pembuat keju di desa Mahounou wilayah Bocanda. Kemudian laporan lain mengatakan, sebuah rumah di desa N'guinou juga telah kejatuhan puing-puing dari roket China.

Penyebab puing-puing itu tidak disebutkan, dan sementara ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Stasiun infrasonik di Pantai Gading juga mencatat puing-puing roket bergerak dengan kecepatan supersonik melalui atmosfer dan menghujam daratan, sekitar 60 kilometer dari lokasi stasiun itu.

Puing-puing ini belum dipastikan berasal dari roket, begitu pun China yang belum mengambil tindakan atas puing-puing itu.

Masih belum jelas bagaimana insiden ini akan ditangani. Namun secara teknis, di bawah hukum internasional, China akan bertanggung jawab atas segala kerusakan yang ditimbulkannya, atau yang lebih buruk harus bertanggung jawab atas cedera yang ditimbulkan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00