LIPI Rintis Ekosistem Riset untuk Diaspora Peneliti Indonesia

KBRN, Jakarta : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan Diskusi Publik “Diaspora Peneliti Indonesia: Kiprah dan Tantangan” yang menghadirkan empat diaspora peneliti yang kini telah berkiprah di LIPI.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko mengatakan pemberdayaan diaspora Indonesia, terutama diaspora peneliti untuk bekerja bagi Tanah Air masih belum maksimal. Untuk itu, LIPI secara aktif mencari dan merekrut diaspora-diaspora peneliti untuk keunggulan kompetitif terhadap SDM aparatur. Sejak tahun 2018, LIPI membuka jalur diaspora dalam mekanisme perekrutan CPNS. 

“LIPI menciptakan ekosistem riset ramah inovasi melalui pembangunan infrastruktur riset serta melakukan penyempurnaan regulasi untuk mendukung platform riset ramah inovasi bagi para diaspora serta lulusan S3 terbaik dalam negeri, yang lebih ramah untuk diaspora, seperti menarik investasi dari luar negeri," kata Handoko di Jakarta, Senin, (09/12/2019).

Empat diaspora peneliti yang kini telah berkiprah di LIPI diantaranya Intan Suci Nurhati adalah peneliti arsip perubahan iklim. Setelah menjadi diaspora selama 10 tahun di Amerika Serikat dan Singapura, Intan sejak tahun 2015 menjadi peneliti di Pusat

Penelitian Oseanografi LIPI. Intan adalah 74 Ikon Apresiasi Prestasi Pancasila untuk bidang Sains dan Inovasi dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Beberapa pengharagaan yang pernah diraihnya adalah LIPI Young Scientist Awards 2018 , German Ministry of Education and Research (BMBF)'s Green Talents Award for International Forum of High Potentials in Sustainable Development, dan John Bradshaw Research Award, Georgia Tech. 

Osi Arutanti bergabung sebagai peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI pada 2018. Sebelumnya selama lima tahun Osi merupakan diaspora yang menetap di Jepang. Penelitiannya mengeksplorasi alternatif fotokatalis yang terjangkau, bisa direalisasi, efisien, dan dapat diaktivasi dengan tenaga surya. Ia baru saja menerima penghargaan L’OrealUnesco for Woman in Science National fellowship 2019.

Ayu Savitri Nurinsiyah menjadi peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI pada 2019. Ayu sudah menyumbang kekayaan keragaman hayati Indonesia dengan menemukan 16 spesies baru keong darat di Jawa. Ia juga menerima penghargaan L’Oreal-Unesco for Woman in Science National Fellowship 2019 untuk riset spesies keong darat Jawa yang memiliki antimikroba dari protein lendirnya. Selama sembilan tahun, Ayu menjadi diaspora di Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman.

Sedangkan Mohammad Hamzah Fauzi merupakan peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI yang direkrut melalui jalur diaspora pada tahun 2019. Sejak tahun 2014, Hamzah bekerja menjadi asisten profesor di Tohoku University, Jepang. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00