Antara Harta, Tahta dan Paket Data

KBRN, Jakarta : Dewasa ini internet telah menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari kehidupan manusia. Seperti makanan, paket kuota internet juga telah menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan saat ini. Semakin banyaknya pengguna internet di Indonesia, membuat provider jaringan telekomunikasi di Indonesia juga saling berlomba- lomba memberikan paket internet yang murah dan sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Beberapa penyedia layanan internet seperti Axis, salah satunya. Paket internet Axis hadir dalam berbagai pilihan. Paket Bronet 8 gb misalnya, memiliki kuota data sebanyak 8 gigabyte yang ditebus dengan harga sebesar Rp 82.900. 

Bicara soal paket data, istilah tersebut sulit untuk dilepaskan  dari internet. Meski istilah tersebut erat dengan internet dan sangat familiar di telinga kita, tapi masih banyak dari pengguna internet yang kesulitan mendefinisikan istilah data yang diidentikan dengan penggunaan internet. 

Istilah data jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah informasi dalam bentuk yang dapat diproses oleh komputer, seperti representasi digital dari teks, angka, gambar grafis, atau suara. Masih menurut KBBI juga, istilah lain dari data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan).

Namun jika merujuk pada merujuk pada buku Richard Fox berjudul Information Technology: An Introduction for Today’s Digital World, data merupakan masukan (input) yang diterima oleh manusia maupun komputer.

Bagi manusia, data diterima manusia oleh panca indera kita seperti mata, telinga atau lidah yang dapat berupa sentuhan, aroma atau rasa. Sedangkan bagi komputer, data adalah nilai yang diinput oleh penggunanya yang dapat berupa teks, kode batang, visual atau suara yang dikonversi agar dapat dipahami oleh komputer. Dengan kata lain, data adalah suatu informasi yang dapat diolah dan disimpan oleh komputer. 

Data yang terdapat di komputer terdiri dari atas kumpulan kombinasi biner yang hanya mengenal dua angka, yaitu 0 dan 1. Kombinasi dua angka tersebutlah yang membentuk visualisasi yang terdapat di layar smartphone atau komputer kalian. Kombinasi biner tersebut ditemukan oleh seorang peneliti asal Jerma, Gottfried Leibniz, yang dituangkan ke dalam karyanya berjudul “Essay d'une nouvelle science des nombres”

Meski data kombinasi biner tersebut terlihat sederhana, data yang diproses oleh komputer dan jaringan internet yang kita gunakan saat ini mempunyai sistem yang cukup kompleks. Data ditransfer dengan dua cara: dari jaringan Internet ke komputer Anda (unduh) atau dari komputer Anda ke Internet (unggah). Data ditransfer dari satu komputer ke komputer lain menggunakan koneksi jaringan atau berbagai perangkat media. 

Internet sendiri telah ada sejak tahun 1969, Departemen Pertahanan Amerika Serikat melalui proyek ARPA berhaisl mengembangkan jaringan yang dinamakan Advanced Research Project Agency (ARPANET) yang menjadi cikal bakal dari internet dewasa ini. Karena dibangun untuk keperluan militer, jaringan ARPANET tidak dibuka untuk umum dan hanya menghubungkan komputer- komputer yang berada di wilayah- wilayah vital untuk menghindari informasi terpusat yang dapat mudah dihancurkan jika terjadi perang.

Tertutupnya jaringan ARPANET yang hanya menghubungkan empat situs milik lembaga riset dan universitas saja yakni, Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara dan University of Utah membuat banyak universitas- universitas lain ingin bergabung. Lawrance Landweber dari Universitas Wisconsin. Menginisiasi terbentuknya konsorsium perguruan tinggi yang tidak terhubung dengan ARPANET untuk menciptakan jaringan lain berbasis protokol TCP/IP, yang dinamai CSNET.

Ledakan pengguna internet baru terjadi di pengunjung tahun 1980-an saat Waring Wera Wanua atau yang lebih dikenal dengan World Wide Web ditemukan oleh Tim Berners-Lee. Dari sini teknologi jaringan internet terus mengalami pekembangan yang sangat signifikan. Bahkan telah menjadi bagian hidup peradaban manusia dewasa ini. Saat ini, lebih dari 4,2 miliar manusia di seluruh dunia telah terhubung secara daring. 

Pengguna Internet di Indonesia

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil survei memengenai penetrasi dan perilaku pengguna internet tahun 2018. Hasil laporan APJII tersebut memberikan hasil bahwa dari total populasi penduduk Indonesia sebanyak 264 juta jiwa, 64,8 persen atau sebanyak 171,17 juta jiwa di antaranya telah terhubung ke internet. Angka tersebut naik 10, 12 persen atau sebesar 143,26 juta jiwa dari jumlah pengguna internet tahun lalu. 

Pulau Jawa menjadi pulau atau wilayah yang menyumbang pengguna internet terbesar di Indonesia dengan jumlah kontribusi mencapi 55 persen pengguna. Disusul oleh Pulau Sumatera 21 persen, Sulawesi-Maluku-Papua 10 persen, Kalimantan 9 persen dan Bali-Nusa Tenggara 5 persen.

Untuk Pulau Jawa, Provinsi Jawa Barat menjadi provinsi dengan dengan kontribusi pengguna internet tertinggi dengan 16,6%. Di peringkat paling buncit ada Yogyakarta dengan jumlah pengguna internet terendah sebanyak 1,5 persen. Namun bila dilihat secara penetrasi, Jakarta menjadi provinsi dengan tingkat penetrasi internet tertinggi di Indonesia dengan persentase 80,4 persen. 

Di Pulau Sumatera, Sumatera Utara menjadi provinsi dengan kontribusi tertinggi, yakni 6,3 persen. Sementara untuk tingkat penetrasi di Pulau Sumatera, Bengkulu menjadi provinsi dengan tingkat penetrasi tertinggi, yakni 85 persen dan Lampung terendah 39,5 persen.

Di Pulau Kalimantan, kontribusi terbesar disumbang oleh Kalimantan Barat dengan persentase 2,1 persen dengan tingkat penetrasi tertinggi di Pulau Kalimantan yang mencapai 80 persen.

Untuk wilayah Sulawesi-Maluku-Papua, Sulawesi Selatan menjadi provinsi tertinggi dalam jumlah kontribusi dengan persentase 3,7 persen. Sedangkan untuk penetrasi, Sulawesi Tenggara menjadi provinsi dengan tingkat penetrasi tertinggi di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua dengan tingkat penetrasi sebesar 80 persen. Di wilayah Bali-Nusa Tenggara, Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi dengan tingkat penetrasi tertinggi dengan 68,2 persen.

Dalam laporan yang sama juga APJII mencatat penetrasi pengguna internet tertinggi disumbangkan oleh mereka yang berada di usia 15-19 tahun, yakni, sebesar 91 persen. Disusul oleh mereka yang berada di kelompok usia 20-24 tahun (88,5 persen) dan 25-29 tahun (82,7 persen). Penetrasi pengguna internet terendah datang dari kelompok usia 65 tahun ke atas, yakni 8,5 persen.

APJII juga mencatat pengguna internet Indonesia rata- rata menghabiskan waktu di dunia maya sekitar 3-4 jam sehari. Pengguna internet Indonesia didominasi oleh pengguna smartphone sebesar 93, 9 persen. Samsung menjadi merek smartphone yang paling banyak dipakai sebanyak 37, 7 persen, disusul oleh Oppo (18 persen) di peringkat kedua dan Xiaomi (17, 7 persen) di peringkat ketiga.

Sementara itu, Ericsson Mobility Review memberikan laporan mengenai tingkat konsumsi data orang Indonesia yang menghabiskan kuota data lebih dari 5 GB setiap bulan dalam aktivitas mereka di dunia maya. Angka tersebut mamasukan pengguna internet Indonesia ke dalam kategori heavy user.

Angka tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang berada di bawah 5 gb per bulan. Peningkatan tersebut diakibatkan makin maraknya konsumsi konten video oleh para pengguna internet Indonesia. Konten video yang semakin meningkat karena kualitas infrastruktur internet yang semakin baik menjadi salah satu pemicu terjadinya peningkatan pergeseran knsumsi data untuk akses internet.

Kecepatan Internet Indonesia

Meski menjadi negara ke lima dalah jumlah pengguna internet terbanyak di dunia, kecepatan internet Indonesia masih kalah jauh dibandingkan negara tetangga kita di Asia Tenggara. Padahal internet sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan dalam beraktivitas seperti berita, hiburan bahkan berbelanja keperluan sehari –hari.

Ponsel sebagai alat yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam beraktivitas di dunia maya sebesar 93, 9 persen, mempunyai kecepatan rata- rata paling lambat di wilayah Asia Tenggara.

Hasil studi yang dilakukan oleh Cupnation melaporkan kecepatan rata- rata internet seluler di Indonesia ada di angka 10.62 Mbps untuk download dan 8.35 Mbps untuk upload. Dengan kecepatan rata- rata tersebut, Indonesia menduduki posisi paling buncit atau paling lamban dibandingkan dengan negara- negara lain di wilayah Asia Tenggara. Kecepatan jaringan internet seluler Indonesia jauh di bawah Myanmar, Laos dan Kamboja.

Singapura berada di posisi teratas melampaui kecepatan rata-rata internet seluler di Asia tenggara yakni 54.96 Mbps. Di posisi kedua dan ketiga ada Myanmar dan Laos yang masing- masing mempunyai kecepatan rata- rata 24,71 Mbps dan 24, 26 Mbps.

Tidak hanya di jaringan seluler, meskipun bukan yang paling buncit, Indonesia menduduki peringkat 9 dari 10 negara Asia Tenggara dalam soal kecepatan internet di jaringan kabel, dengan kecepatan rata- rata jaringan internet 16.34 Mbps. Lebih baik dibandingkan kecepatan rata- rata jaringan internet kabel di Myanmar 11.74 Mbps.

Singapura masih menduduki peringkat paling atas dalam soal kecepatan rata- rata internet kabel dengan kecepatan yang mencapai angka 197.04 Mbps. Malaysia berada di posisi kedua dengan kecepatan 70.18 Mbps.

Padahal kelancaran akses internet merupakan dambaan setiap masyarakat Indonesia dewasa ini yang mulai bergantung pada internet di setiap sendi- sendi kehidupannya. Menurut situs Nerdwallet, kecepatan akses internet yang dibutuhkan untuk aktivitas browsing, email, dan media sosial adalah 1 Mbps. Sedangan kecepatan internet untuk keperluan voice call atau video call adalah  0,1 hingga 1,2 Mbps. 

Daftar Kecepatan Internet di Wilayah Asia Tenggara:

Kecepatan Internet Selular (Rata-rata 21,82 Mbps) 

  1. Singapura | Download: 54.96 Mbps, Upload: 18.82 Mbps 

  2. Myanmar | Download 24.71 Mbps, Upload: 15.83 Mbps 

  3. Laos | Download 24.26 Mbps, Upload: 13.78 Mbps 

  4. Vietnam | Download: 21.94 Mbps, Upload: 12,79 Mbps 

  5. Malaysia | Download: 20.58 Mbps, Upload: 9,95 Mbps 

  6. Thailand | Download: 16.64 Mbps, Upload: 9,61 Mbps 

  7. Brunei | Download: 15.58 Mbps, Upload: 10,06 Mbps 

  8. Filipina | Download: 14.61 Mbps, Upload: 6,45 Mbps 

  9. Kamboja | Download: 14.31 Mbps, Upload: 10,85 Mbps 

  10. Indonesia | Download: 10.62 Mbps, Upload: 8.35 Mbps 

Kecepatan Internet Jaringan Kabel (Rata-rata 45,69 Mbps)

  1. Singapura | Download: 197.04Mbps, Upload: 201.76Mbps 

  2. Malaysia | Download: 70.18 Mbps, Upload: 44.5 Mbps 

  3. Thailand | Download: 59.61 Mbps, Upload: 33.62 Mbps 

  4. Vietnam | Download: 27.21 Mbps, Upload: 27,07 Mbps 

  5. Laos | Download: 22.09 Mbps, Upload: 22.03 Mbps 

  6. Filipina | Download: 19.13 Mbps, Upload: 17.02 Mbps 

  7. Brunei | Download: 16.96 Mbps, Upload: 10.75 Mbps 

  8. Kamboja | Download: 16.60 Mbps, Upload: 17.53 Mbps 

  9. Indonesia | Download: 16.34 Mbps, Upload: 9.68 Mbps 

  10. Myanmar | Download: 11.74 Mbps, Upload: 11.13 Mbps

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00