HMI Go to Masjid, Gandeng Remaja Masjid Tangkal Radikalisme dan Tingkatkan Nasionalisme

KBRN, TARAKAN : Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tarakan bersama Ikatan Remaja Masjid (IRMA) Nurul Islah Kota Tarakan melaksanakan kegiatan Majelis Ta'lim kebangsaan dengan tema "Peran Mahasiswa dan Pemuda Islam dalam Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme Guna menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia". 

Kegiatan dilaksanakan di Masjid Nurul Islah, Kelurahan Gunung Lingkas, Kamis (12/5/2022). 

Kegiatan ini di inisiasi oleh HMI Cabang Tarakan bersama IRMA Masjid Nurul Islah Kota Tarakan guna membangun kesadaran Ikatan Remaja Masjid memiliki peran yang cukup sentral dalam menetralisir masuknya paham - paham radikalisme dan terorisme ke tempat ibadah. 

Ketua umum HMI Cabang Tarakan, Dedy Syarkani mengungkapkan, konsep kegiatan dilakukan di masjid dengan harapan untuk menangkal masuknya paham radikalisme dan terorisme di kalangan mahasiswa dan remaja masjid di Kota Tarakan. 

Melalui 'HMI Go to Masjid' atau kegiatan serupa nantinya, pihaknya juga bisa sekaligus mencegah dijadikannya masjid sebagai tempat penyebaran paham radikalisme maupun terorisme. 

Sehingga, remaja bisa turut serta menjaga keutuhan NKRI. 

“Sebagai upaya kita menjaga kemurnian agama. Kita jaga jangan sampai ada kesan remaja jauh dari Masjid. Kami akan buat konsep kegiatan di Masjid dengan kekinian, tapi tidak keluar dari substansi. Bagaimana melakukan dakwah tentang kebangsaan, keislaman dan persaudaraan,” tuturnya. 

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltara, Zainuddin Dalila menjadi pengisi tausiah dan berpesan tentang peran mahasiswa menangkal paham radikalisme dan terorisme. 

Ia mengajak mahasiswa dan remaja masjid untuk bersama menangkal paham berbahaya di Indonesia. 

“Kegiatan seperti ini perlu dibuat serius, karena radikalisme dan terorisme akan ada terus. Sehingga keutuhan NKRI harus dijaga dan remaja harus terus berbuat untuk bangsa,” katanya, mengapresiasi kegiatan tersebut. 

Zainuddin mengungkapkan, bangsa Indonesia memang ditakdirkan untuk berbeda, tidak satu agama, tidak satu suku. Tapi, dari berbagai agama dan berbagai suku bisa dijadikan kekuatan besar untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Pesannya, tidak boleh mempertentangkan perbedaan yang ada. 

Sehingga, selanjutnya tinggal bagaimana menjalani perbedaan tetap ada, tetapi rukun harus diciptakan dan disampaikan kepada semua generasi, terutama generasi muda. 

“Bagaimana orang para pemikirnya dulu bisa memikirkan bahwa hal yang pas untuk menegakkan bangsa ini dengan Pancasila. Sebagai warisan terbesar yang ditinggalkan, itulah yang akan menyatukan kita. Tidak bisa dengan agama tertentu atau suku tertentu,” jelasnya. 

Ia pun meminta tidak ada lagi pemahaman yang meminta Indonesia menjadi negara Islam, karena pada saat disuarakan maka masyarakat di provinsi lain akan langsung mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan negara sendiri. 

Keluar dari NKRI, berarti sudah memicu keretakan dan tidak menguntungkan bagi bangsa. 

“Sehingga saya mengajak, mari kita rangkul perpecahan ini untuk lebih menjadi NKRI,” tegasnya. (crz)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar