Swasembada Beras Kaltara Butuh Waktu Panjang

KBRN, Kaltara : Upaya Kaltara ingin menjadi daerah swasembada beras tampaknya memakan waktu panjang. Sebab, produksi padi saat ini baru mencapai 33 ribu ton dari kebutuhan minimal 1 tahun sebanyak 80 ribu ton. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara, Heri Rudiono mengatakan produksi beras yang dihasilkan baru mencapai 35 persen. Sedangkan 65 persen masih diupayakan untuk digenjot. Lantaran masih adanya kendala dihadapi terutama lahan pertanian yang berada di kawasan pasang-surut. 

Kondisi ini membuat peluang besar bagi distributor mendatangkan beras ke Kaltara. “Kebutuhan untuk membeli beras, hitungan saya tidak kurang dari Rp850 miliar per tahun untuk dimakan. Kalau kita mampu mencukupi sendiri, tidak perlu lagi mendatangkan beras dari mana-mana,” ujarnya  kemarin. 

Ia menjelaskan sejumlah kendala yang harus diselesaikan bersama. Diantaranya, lahan pertanian perlu didorong jumlahnya, kedua persoalan infrastruktur.  “Minimal, jalan dan irigasi diperbanyak. Kalau itu bagus, bisa diatur kapan diperlukan airnya, dan (kapan) tidak diperlukan. Posisi sekarang itu kalau pada saat banjir, lahan pertanian tenggelam. Oleh karena itu, infrastrukturnya harus segera dibenahi,” bebernya. 

Heri mengungkapkan kawasan pertanian produktif tersebar di Kaltara. Di Bulungan, ada kawasan food estate mulai dari Tanjung Palas Utara sampai Tanjung Palas Timur. Bahkan sudah mulai ada pola penanaman padi model haston. Di Sajau (Bulungan), Indeks Pertanaman (IP) sudah mencapai 300, sedangkan di Tanjung Buka (Bulungan) masih harus didorong supaya bergerak naik, karena mulai melemah. 

Untuk wilayah Nunukan, kawasan pertanian tersebar di Sebatik, Krayan dan beberapa kecematan lainnya. Kabupaten Malinau juga memiliki 500 hektare lahan pertanian yang tersebar di tiga kecamatan. Kemudian untuk di Kabupaten Tana Tidung belum ada. 

“IP itu Indeks Pertanaman. Kalau IP-nya 100, petani menanam dalam setahun sekali. Kalau IP 200, setahun tanam 2 kali. IP 300, petani menanam 1 tahun 3 kali. Kami target swasembada benih untuk padi. Setelah itu, baru mencapai secara bertahap untuk memenuhi target. Secara teori target harus tercapai selama masa jabatan gubernur 2024,” tuturnya. (kk/sti)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar