Jual Sianida Ke Penambang Emas Sekatak, Habib Munir di Jerat Pasal Berlapis

KBRN, TANJUNG SELOR : Menjual bahan kimia berupa sianida secara ilegal, seorang pria di panggil Habib Munir terpaksa diringkus Subdit 4 Tipidter Direktorat Reserse kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Kaltara, di kediamannya yang berada di Bogor, Jawa Barat.

Saat dikonfirmasi, Dir Reskrimsus Polda Kaltara, Kombes Pol Thomas Panji Susbandaru mengatakan, mendapat informasi pihaknya melakukan penggeledahan di rumah Habib Munir di daerah Sekatak. Dari tempat itu mengamankan 8 kaleng sianida dengan rincian 6 kaleng masing-masing berat 50 kg, sedangkan Dua kaleng lainnya telah diedarkan. Sehingga barang bukti yang tersisa hanya 30 kg. Serta 26 kaleng sianida dengan berat masing-masing berat 50 kg.

"Terhadap Habib Munir sudah dua kali kita lakukan upaya pemanggilan guna pemeriksaan, tetapi tidak datang. Akhirnya kami menjemputnya di kediamannya yang berada di bogor. Sebenarnya dia orang bogor tapi memiliki KTP sekatak juga," ujarnya, Senin (14/12/2020).

Thomas mengungkapkan, Sianida ini di jual ke penambang emas ilegal, di gunakan untuk menarik emas dari tanah. Dimana per satu kaleng berat 50 Kg di hargai Rp7 juta.

"Bisnis ini sudah satu tahun dilakukannya. Dari pengakukannya sianida ini dia ambil di Jakarta tapi saat di cek ternyata perusahaan itu fiktif," beber Dir Reskrimsus Polda Kaltara.

Ditegaskan Thomas, atas perbuatannya ini Habib Munir disangkakan pasal berlapis, dan saat ini telah mendekam di balik jeruji besi di Polres Bulungan. Penanganan berkas perkara dilakukan oleh Subdit I Dit Reskrimsus, dan berkas perkara masing-masing telah di tahap satu di Kajati Kaltim guna proses hukum tindak lanjut ke peradilan.

"Kita persangkakan pasal berlapis yaitu Pasal 109 Pasal 36 ayat 1 UU RI nomor 32 tahun 2009, tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, ancaman pidana maksimal 3 tahun denda paling banyak Rp 3 Miliar. Pasal 106 Jo Pasal 24 ayat 1 UU RI nomor 7 tahun 2014 tentang Izin perdagangan, ancaman pidana penjara 4 tahun dan denda Rp10 Miliar. Serta Pasal 23 Jo Pasal 9 ayat 1 UU RI nomor 9 tahun 2008 tentang penggunaan bahan kimia, ancaman pidana 5 tahun penjara dan denda Rp5 Miliar," pungkasnya. (Crz)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00