Distribusi Obat ke Wilayah Apau Kayan Terkendala Mahalnya Biaya Pesawat 

sejumlah unit penerbangan di Bandara Kolonel RA Bessing Malinau.jpg

KBRN-Malinau : Angkutan udara dari Apau Kayan ke Malinau yang sebelumnya hanya belasan juta rupiah, kini tarifnya naik hingga Rp46 juta. Besaran tarif penerbangan ini menjadi kendala tersendiri dalam distribusi obat dan transportasi pasien rujukan di perbatasan.

Kepala Dinas Kesehatan PPKB Malinau, dr. John Felix Rundupadang mengungkapkan, untuk transportasi rujukan orang sakit (pasien) tidak seperti dulu yang sekali menjemput hanya belasan juta. Tarif tersebut berlaku untuk sekali trip. Setiap kali  mengambil pasien di Apau Kayan. Sedangkan jenis pesawat yang terbang ke Apau Kayan kini sudah berbeda dari sebelumnya.

Sehingga, setiap penerbangan itu hanya bisa menggunakan jenis pesawat Kodiak dan tidak ada lagi jenis pesawat Pilatus. Oleh karena itu, pendistribusian obat-obatan ke wilayah perbatasan, khususnya Apau Kayan, diakuinya, sejauh ini dititipkan ketika ada penjemputan pasien. "Jadi kita menitipkan obat-obatan itu, baik dari tenaga kesehatan yang ke sana,” tegasnya.

Namun John memastikan,  jadwal pendistribudian obat-obatan ini sudah sesuai target. Hanya saja, memang yang menjadi persoalan itu ada di Pustu (puskesmas pembantunya). Terkadang mereka kurang inisiatif untuk mengambil obat-obatan itu di Puskesmas induk. Dia mencontohkan, di Desa Sungai Barang yang memang hanya memiliki puskesmas.

Terkadang petugasnya enggan ke Puskesmas Induk yang ada di Long Ampung. Para petugas dari Pustu Sungai Barang jarang mengambil. Padahal obat-obatan itu sudah ada. John menilai kinerja Pustu dan Puskesmas di wilayah perbatasan belum begitu maksimal. Sehingga  memang belum begitu maksimal dari sisi manajerial mereka. "Jadi kami tegaskan untuk obat-obatan sudah maksimal didistribusikan,”  tukasnya. (*)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar