Tertib Dalam Penggunaan Pengeras Suara Masjid

KBRN, Tarakan : Ketua Dewan Masjid Indonesia - DMI Tarakan Nur Ali menjelaskan, aturan tentang panduan penggunaan pengeras suara di masjid dan musala sudah ada sejak 1978. Aturan tersebut tertuang dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Tahun 1978. Menurutnya saat dihubungi RRI, Senin (19/4/21), Instruksi Dirjen Bimas Islam ini antara lain menjelaskan tentang keuntungan dan kerugian penggunaan pengeras suara di masjid dan musala. Salah satu keuntungannya adalah sasaran penyampaian dakwah dapat lebih luas.  Namun, penggunaan pengeras suara juga bisa mengganggu orang yang sedang beristirahat atau penyelenggaraan upacara keagamaan.

Dalam intruksi tersebut Kata Nur Ali dijelaskan, bahwa pada dasarnya suara yang disalurkan keluar masjid hanyalah azan sebagai tanda telah tiba waktu salat. Sementara, salat dan doa pada dasarnya hanya untuk kepentingan jemaah ke dalam dan tidak perlu ditujukan keluar untuk tidak melanggar ketentuan syariah yang melarang bersuara keras dalam salat dan doa. Sedangkan dzikir pada dasarnya adalah ibadah individu langsung dengan Allah  karena itu tidak perlu menggunakan pengeras suara baik ke dalam atau ke luar. Ia berharap aturan tersebut dapat disosialisasikan oleh Kementrian agama agar masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sama tentang aturan tersebut.(*)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00