Kemenag Bintan Gelar Pembacaan Puisi dan Bedah Buku

KBRN, Bintan: Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bintan menggelar Pembacaan Puisi dan Bedah Buku tepat seusai berakhirnya RAT (Rapat Akhir Tahunan) Koperasi 2022.

Buku yang dibedah adalah Negeri Setuah Kata karya anggota Perruas Kepulauan Riau, dan Kumpulan Puisi Secawan Kopi Rindu karya Erman Zaruddin. Menurut Asrizal Nur yang akrab disapa Asnur, untuk belajar menulis puisi harus tahu kunci nya.

 “Sama hal nya dengan mengendarai kendaraan, harus punya kunci kendaraan tersebut, bagaimana cara menggunakan kunci tersebut, dan bagaimana mengendarainya secara langsung,” kata Asnur pada kegiatan yang dihadiri pegawai Kemenag Bintan dan anggota Koperasi itu.

“Menulis puisi tidak sama dengan menulis berita, jika menulis berita berdasarkan fakta yang terjadi, maka menulis puisi adalah menulis sesuatu yang bukan makna nya, menulis puisi adalah menuils tentang dibalik apa yang dilihatnya,” ujarnya pada kegiatan yang bertempat di Aula Kantor Kemenag Bintan itu.

Asrizal menerangkan dari seluruh anggota Perruas terdapat 10% yang sudah dapat dibina untuk menulis puisi dengan benar. Beberapa di antaranya sudah memenuhi syarat menulis puisi, dan beberapa lagi bahkan sudah memiliki kapasitas sebagai penyair profesional, salah satunya, Erman Zaruddin.

“Saya mengapresiasi Pengurus Perruas Kepri yang sudah mencuri start membedah buku karya nya yaitu Negeri Setuah Kata, dan Kumpulan Puisi Secawan Kopi Rindu. Menurut saya, mengapa buku kumpulan puisi ini berhasil masuk nominasi menjadi pemenang dan nyaris menjadi buku terbaik karena puisi-puisi karya beliau (Erman) berfokus pada tema. Sebaiknya memang isi buku atau puisi berhubungan dengan tema yang diangkat,” urainya.

Menanggapi uraian Asrizal tersebut, Erman mengatakan, Buku Negeri Setuah Kata adalah buku pertama Pengurus Perruas Kepri. Ia berharap akan segera ada buku-buku selanjutnya yang dikeluarkan oleh Perruas Kepri. “Terkait isi puisi dan tema, saya akui untuk menuliskannya membutuhkan renungan, pengembaraan jiwa, dan kerinduan yang tidak hanya pada satu sosok,” sahut Erman.

Sementara itu, Sam Mukhtar Chaniago, seorang Budayawan sekaligus Dosen UNJ (Universitas Negeri Jakarta) mengatakan, untuk menulis buku ini memang perlu dorongan dari keinginan memanfaatkan kesempatan, menunjukkan eksistensi, kemauan menunjukkan kepada orang lain bahwa Provinsi Kepri adalah tempat asal muasal kata/bahasa.

“Salah satu cara membentuk/membangun bangsa adalah melalui bahasa. Lakukan sesuatu yang bermanfaat dan meninggalkan kenangan baik sebelum mencapai usia nabi Muhammad Saw., 63 tahun, dan kedua buku ini adalah salah satu cara yang bisa dipilih,” ungkap Sam.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar