Dikejar Pendaftaran Stimulan Rumah Masa Trauma Gempa

Suasana tempat foto kopi saat warga terdampak gempa mengejar waktu pendaftaran Program Stimulan Rumah Terdampak Gempa Mamuju di Jalan RE Martadinata, Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu (24/1/2021).(Dok.Denisa Tristianty).

KBRN, Mamuju: Program Stimulan Rumah Terdampak Gempa Magnitudo 6.2 Mamuju dikabarkan memiliki batas waktu pelaporan. Sebab, dua warga Kecamatan Simboro mengaku, saat ini mereka mendapat informasi bahwa pendataan terakhir, hari ini, Minggu (24/1/2021).

Heru Kurniawan (41), dan Abdurrachman Tahir (49) mengantre di satu tempat foto kopi di Jalan RE Martadinata, Simboro, Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu (24/1/2021) siang. Mereka punya cerita serupa soal pendataan para penerima stimulan.

Pertama, Heru. Dia mengaku masih was was tinggal di dalam rumah karena rumahnya retak di banyak sisi akibat gempa.

“Ya, saya untuk foto kopi dokumen; KTP, sertifikat KK, sama foto rumah yang rusak (dicetak, red). Keperluan kebutuhan rumah rusak berat, atau ringan (stimulan, red). Ya, untuk stimulan, siapa tahu bisa dapatkan bantuan. Nanti, saya kasih datanya ke Ketua RT,” kata Heru saat ditemui RRI.CO.ID di Simboro, Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu (24/1/2021).

Caption

Saat ini, kata Heru, dia masih mengungsi di Terminal Regional. Dia menjelaskan berbagai dokumen harus digandakan atau dikopi.

Menurut dia, alasan mengurus dokumen itu karena dia mengetahui hari ini adalah hari terakhir pendataan. Padahal, masih banyak warga terdampak gempa mengungsi di berbagai tempat.

“Ya, hari ini terakhir. Kalau dibilang terlalu cepat, ya. Kalalu menurut teman teman saya, ini terlalu cepat, karena kami ini kan, masih dalam keadaan darurat, dalam keadaan masih trauma atas gempa ini,” kata dia.

Heru meminta pemerintah memerhatikan kondisi para korban gempa.

“Kalau bisa, pemerintah memebrikan tenggat waktulah. Memberikan waktu untuk teman teman dan saudara yang kena dampak di sini,” ujar Heru.

Pasca gempa Mamaju baru masuk hari ke-8, sejak terjadi, Jumat (15/1/2021) pukul 02.30 WITA. Heru berpikir, ada baiknya batas waktu diperpanjang dengan disosialisasikan kepada warga secara merata.

“Menurut saya, dikasih waktu tiga minggu atau satu bulan lagi, lebih ideal lagi. Karena kami menyibukkan diri kita, tidak mungkin kami kami sibuk ke situ (mencari dokumen, red). Karena biasa kami simpan di dalam lemari, sudah roboh semua. Jadi, kami mencari berkas berkas” ungkap Heru.

Apalagi, kata Heru, tepat di rumahnya adalah warga lanjut usia (lansia) mengalami dampak dengan rumah roboh. Masih banyak warga bingung terkait pendaftaran stimulan rumah terdampak gempa Mamuju ini.

“Ada samping rumah saya roboh, itu lansia. Memang perlu waktu sebenarnya. Adanya wawancara ini, saya mohon, permintaan kami dikasih ke sana (pemerintah, red) meminta wartawan, ya semoga ada tenggat waktu pendaftaran,” kata dia.

Heru tinggal bersama tiga anggota keluarga lainnya, istri dan dua orang dalam satu kartu keluarga (KK).

Dia juga sudah mengetahui stimulan bakal diberikan pemerintah untuk tiga jenis rumah terdampak gempa.

“Kalau saya dengar kemarin itu, kalau (rusak, red) ringan itu Rp10 juta. Kalau (rusak, red) sedang itu, Rp25 juta, dan yang (rusak, red) berat itu Rp25 juta,” kata Heru.

Saat diwawancara RRI.CO.ID, Heru mengaku berprofesi sebagai staf Dinas PUPR Mamuju. Meski dia bekerja di Dinas PUPR, dia tetap takut tidak mendapatkan haknya sebagai warga terdampak gempa Mamuju.

“Kebetulan, saya bekerja di Kantor PU, staf biasa, non PNS. Kami kan, juga banyak honorer. Saya juga kasih informasi ke teman teman saya juga. Saya tidak memikirkan diri sendiri. Saya, didata dan tidak didata, ya kena dampak gempa,” ujar Heru.

Informasi Minim

Pengakuan kedua datang dari Abdurrachman Tahir. Dia juga menyatakan, informasi pendaftaran hari terakhir ini membuat dia terburu-buru.

“Sebenarnya, masih terburu-buru sekali karena kami dalam keadaan trauma ini. Karena kan, kita ini masih capek, apa semua, langsung (dibilang, red) ini hari terakhir pendaftaran. Jadi, kita kalang kabut,” tegas Abdurrahman.

Estimasi pendaftran, Abdurrahman juga punya pendapat tersendiri.

Abdurrahman Tahir menunjukkan Kartu Keluarga sebagai salah satu dokumen pelangkap Program Stimulan Rumah Terdampak Gempa Mamuju, Sulbar.(Dok.Denisa Tristianty)

“Ya, estimasinya, ya sepuluh harilah ke depan. Supaya, masyarakat ini masih banyak belum ada tahu, hanya di daerah tertentu. Seandainya saya tidak tanya ke Pak RT, saya tidak tahu juga,” kata Abdurrahman.

Tapi, kata dia, pengumuman tetap ada di RT tempat tinggalnya.

“Ada. Tapi, warga masih trauma, belum memerhatikan toh. Ini masih banyak di pengungsian,” kata dia.

Abdurrahman saat ini memilih mengungsi dengan membangun tenda di depan rumah karena masih berpikir lebih aman di sana.

“Rumah hancur. Hancur sedanglah. Pokoknya, (keadaan, red) tidak layak,” kata Abdurrahman.

Jadi, kata dia, warga sudah tahu Program Stimulan Terdampak Gempa, tapi tidak tahu batas tenggat waktu pendaftaran.

Abdurrahman Tahir menunjukkan Kartu Keluarga sebagai salah satu dokumen pelangkap Program Stimulan Rumah Terdampak Gempa Mamuju, Sulbar.(Dok.Denisa Tristianty)

“Rumah saya di sini, RE Martadinata juga, Simboro. Tadi, langsung saya ambil dokumen, biar yang lain masih berantakan, tapi dokumen ada,” ujar dia.

Ironinya, dia mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Menurut dia, seharusnya pemerintah, dalam hal ini Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Sulawesi Barat keliling mendatangi warga terdampak gempa menyalurkan bantuan.

“Ya, seharusnya mereka keliling. Masih banyak warga tidak mau antre, karena kami ini trauma. Masak kita juga harus antre kayak anak sekolah!,” keluh Abdurrahman.

Kabupaten Mamuju mengalami gempa Magnitudo 6.2 kedalaman 10 Kilometer, pada Jumat (15/1/2021) pukul 02.30 WITA.

Menurut data BNPB, hingga (21/1/2021) pasca gempa di Mamuju, terdapat 80 orang meninggal dunia, 253 luka berat, 9.390 pengungsi, dan 20.448 jiwa terdampak.

Pusat gempa saat itu berada di darat 4 Kilometer Barat Laut Majene.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00