26 Titik Api Terpantau di Kalteng

26 titik api mulai terpantau di Kalimantan Tengah jelang musim kemarau akhir Juli 2020 (Ilustrasi/Dok. Istimewa)

KBRN, Palangka Raya: Memasuki musim kemarau yang diprediksi terjadi pada akhir Juli, masyarakat diminta waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan parah seperti tahun 2015 dan 2019 lalu.

Kepala Pusta Data Dan Informasi BMKG Palangka Raya Anton Budianto mencatat, selama proses pergantian musim dari hujan ke kemarau, ada sejumlah titik api yang terpantau oleh satelit.

Dari periode tanggal 1 sampai 5 Juli, ada 26 titik api terdeteksi, tersebar di 13 Kabupaten, satu titik di Kota, antara lain Kabupaten Katingan, Pulang Pisau, dan Sampit.

“Tahun ini musim kemarau berlangsung normal tidak disertai dengan munculnya la nina dan el nino, namun tetap harus diwaspadai karena bisa berpotensi timbulnya bencana kebakaran dari ulah oknum tak bertanggung jawab. Sebab berdasarkan analisis tahun sebelumnya, sebagian besar karhutla dikarenakan sengaja dibakar oknum tak bertanggung jawab,” kata Anton kepada RRI, Jumat (10/7/2020).

BACA JUGA: Oknum Penjual Hutan Aceh Berkeliaran Bebas

Sementara itu dari sudut pandang medis, Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah Suyuti Syamsul mengatakan, tiap tiba musim kemarau masyarakat harus waspada terhadap munculnya penyakit infeksi saluran pernafasan dan diare.

Kedua penyakit tersebut memiliki dampak buruk jika tidak diantisipasi dengan baik. Caranya cukup sederhana, masyarakat Kalteng jangan membakar lahan dengan sengaja dan terus menjaga pola hidup bersih dengan rajin mencuci tangan sebelum maupun sesudah beraktivitas.

Suyuti menambahkan, meski Indonesia sudah merdeka dari tangan penjajah, tetapi terus dihantui dengan munculnya berbagai virus pembawa penyakit berbahaya, salah satu yang paling fenomenal saat ini adalah pendemi virus Corona.

“Padahal cukup gampang dikalahkan, selama seluruh masyarakat disiplin dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat, virus tidak akan menyerang,” ujarnya

Disamping itu, Pemerintah tidak kurang dalam memberikan sosialisasi terkait gerakan masyarakat sehat, tetapi kendalanya terletak pada kesadaran masyarakat yang minim dalam menerapkan perilaku hidup bersih.

Sehingga sebaik apapun program tidak akan berhasil menyentuh masyarakat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00