Abrasi Parah Hantam Pantai Serdang Beltim

Puluhan pohon pinus tumbang dihantam Abrasi parah di Pantai Serdang

KBRN, Belitung Timur: Abrasi parah terjadi di Pantai Serdang, Desa Baru Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Belasan meter bibir pantai hilang akibat dihantam gelombang pasang dan surut di masa angin selatan ini, diikuti tumbangnya puluhan pohon-pohon pinus di pantai tersebut akibat tanah tempat akarnya tertanam tergerus oleh gelombang laut.

Salah seorang pemilik usaha makanan di Pantai Serdang Rozani (44)  menyatakan saat laut pasang, bahkan gelombang bisa mencapai jalan.

“Datang saja pas pasangnya full kira-kira jam 7-8 malam ke sini. Ini semua penuh air laut sampai ke tepi warung,” ungkap Jani, Rabu (8/7/20).

Pengunjung Pantai Serdang di area menara pengawas

Pria yang sudah berjualan sejak tahun 2011 itu mengaku sampai harus memindahkan lokasi warungnya sebanyak tiga kali akibat tanahnya hilang dibawa oleh gelombang.

“Dalam 3 bulan belakangan ini saja kira-kira 10 meter hilang pantainya. Kalau dari awal berjualan sudah belasan meter tergerusnya,parah” kata Jani.

Jani dan keluarga juga sudah pernah berupaya menahan laju abrasi dengan membuat penahan dari karung-karung pasir. Sayangnya usaha itu tidak terlalu banyak membantu, karena kekuatan gelombang yang sangat besar.

“Puluhan karung kami tanam agar pasirnya tidak tergerus, lumayan untuk menahan tanahnya agar tidak terseret gelombang. Kalau tidak ada sih sudah lama warung kami juga terkena. Tapi tetap saja abrasi nya makin parah kan” ujar Jani.

Pihak Desa Baru dan Pemkab Belitung Timur juga sudah lama mengetahui kondisi ini. Namun hingga saat ini Jani menyebut belum ada tindakan terkait abrasi Pantai Serdang.

“Kita berharap Pemda akan bikin talud dan pemecah gelombang. Pantai Serdang ini kan salah satu tempat wisata, saying kalau pantainya hilang akibat abrasi,” harap Jani.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Belitung Timur, Sumarno mengatakan sudah sejak lama mengajukan usulan proyek talud dan pemecah gelombang untuk Pantai Serdang ke Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII Dirjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum. Namun pengerjaan proyek baru bisa dilakukan pada tahun 2021 mendatang.

“Sudah dari awal tahun 2020 lalu kita usulkan, cuman sekarang mereka masih mengerjakan yang di Pantai Mudong dulu. Tahun depan kemungkinan baru mereka bisa mengerjakan yang di Pantai Serdang,” kata Marno.

Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Beltim, Sumarno

Apalagi menurut Marno, Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII tidak lagi akan mengurusi masalah pembangunan di Kabupaten Beltim. Tugasnya akan diambil alih oleh Balai Besar Wilayah Bangka Belitung.

“Kebetulan dua minggu kemarin mereka ada perubahan nomenklatur, jadi sekarang urusan di sini sudah dipegang Balai Besar Wilayah Bangka Belitung. Kita akan kembali mengirimkan usulannya ke sana, Insyaallah akan lebih mudah,” terangnya.

Selain Pantai Serdang, Dinas PUPR juga mengajukan usulan pembuatan talud untuk abrasi di Pantai Mudong, Kulong Minyak dan Kolong Teratai Manggar, serta Pantai Pering Kelapa Kampit.

“Memang tahun ini banyak kegiatan yang ditunda lantaran COVID ini. Cuman kita upayakan agar yang di Pantai Serdang dikerjakan tahun depan. Mudah-mudahan nanti dari Balai Besar Bangkan Belitung akan berkunjung ke sini, atau kita undang untuk melihat kondisinya,” tambahnya.

Diakuinya jika pembangunan talud dan pemecah gelombang hanya mengandalkan APBD Kabupaten Beltim, hasilnya akan kurang maksimal mengingat terbatasnya anggaran.

“Harus pakai dana APBN di Kementerian PU kan milyaran itu butuhnya. Jadi walau mereka sedikit-sedikit pengerjaannya tapi dapat dilakukan secara bertahap,” tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00