Desa di Denpasar Dilanda Banjir

Banjir di Desa Pemogan. (Istimewa)

KBRN, Denpasar Selatan: Hujan deras yang mengguyur Kota Denpasar, Senin (1/6/2020) dini hari mengakibatkan banjir di sejumlah titik. Salah satunya di Desa Pemogan. 

Banjir di Desa Pemogan, Denpasar Selatan, melanda warga yang rumahnya berdekatan dengan Waduk Muara Nusa Dua. 

Dari pantauan RRI, air masih menggenang di pertigaan Jalan Gelogor Carik - Jalan Griya Anyar, hingga Pukul 13.00 WITA. Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar menurunkan pompa sedot untuk menyalurkan air ke Tukad (sungai) Badung. 

Debit air di Waduk Muara Nusa Dua juga terpantau cukup tinggi. Belum lagi sampah memenuhi waduk yang sempat ditinjau Presiden, Joko Widodo pada Jumat 14 Juni 2019 silam. 

Debit air tinggi dan sampah penuhi Waduk Muara Nusa Dua. (KBRN)

RRI sempat mewawancari dua warga Taman Pancing, Banjar Gelogor Carik, Kelurahan Pemogan. Dua warga itu masing-masing bernama Muchlasin, dan Udin. 

"Sekarang paling parah. Tadi tingginya (banjir) antara 60 centimeteran lah," ungkap Muchlasin kepada RRI dilokasi banjir, Senin (1/6/2020).

"Tadi malam, jam 5 sudah banjir kayak gini keadaannya. Ini beras-beras saya sampai naik semua karena banjir, tingginya sampai 1 meteran," sebut Udin sembari membersihkan sisa-sisa lumpur dan sampah di toko kelontong miliknya. 

Banjir genangi pemukiman warga di Desa Pemogan, Denpasar Selatan. (Istimewa)

Sementara Kelian Adat Banjar Sakah, Desa Adat Kepaon, Pemogan, Anak Agung Gede Agung Aryawan mengaku, banjir mulai melanda daerahnya ditahun 2017. Hal ini buntut dari proyek rehabilitasi Waduk Muara Nusa Dua oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 

"Kalau untuk Pemogan kan banjir ini terjadi karena sejak adanya saringan. Saringan itu dibangun, yang tujuannya untuk menjaga air estuari dam ini, Waduk Muara Nusa Dua ini, yang merupakan air bakunya PDAM Badung untuk hotel-hotel di Badung Selatan," bebernya ketika meninjau Waduk Muara Nusa Dua, Senin (1/6/2020) siang. 

"Sejak dibangunnya saringan itu tahun 2017 kemarin, mulailah ada efek banjir, yang sebelumnya tidak pernah terjadi banjir. Apalagi dalam musim volume air seperti ini, hujan deras, ya efeknya sangat tinggi. Ratusan rumah terendam," sambung pria yang akrab disapa Gung De tersebut. 

Gung De menyampaikan, banjir mulai menggenangi ratusan rumah warga pada Pukul 03.00 WITA. Ketinggian banjir disebut mencapai 1 meter atau diatas lutut orang dewasa. 

Melihat kondisi ini, warga Pemogan meminta pemerintah segera mencari solusi untuk mengantisipasi kejadian serupa. Ia menyebut, banjir semakin mematikan mata pencaharian warga, terlebih dimasa pandemi COVID-19 seperti saat ini. 

"Ya intinya dibuatkan alternatif lain. Misalkan dibuatkan gorong-gorong ke laut disisi sebelah timur ataupun sebelah barat. Artinya tidak masuk kesini untuk daerah pemukiman. Karena banjir ini terjadi, walaupun tidak hujan disini, tetapi hujannya dihulu, ya pasti banjir," ucapnya.

"Memang sudah ada sih beberapa langkah, seperti ditutup pakai pintu air digorong-gorong yang masuk kearah pemukiman, tetapi itu tidak efektif. Dan sisi barat ini yang pertama ini (banjir) disisi barat sungai, diwilayah Gelogor Carik, Taman Pancing itu. Sebelumnya ya masyarakat disekitar Banjar Kajeng sisi timur sungai, disisi timur jembatang yang di Tanah Kilap itu," pungkas Anak Agung Gede Agung Aryawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00