Banjir, Tanah Longsor, Angin Puting Beliung Dominasi Kebencanaan

KBRN, Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 1.300 kebencanaan alam dan non nalam terjadi di Indonesia hingga akhir Mei 2020.

Kebencanaan yang terjadi itu, lebih didominasi oleh kejadian fenomena alam hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor angin puting beliung dan bencana lainnya.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati mengatakan bahwa dari catatan terakhir yang diperoleh pihaknya, rincian untuk fenomena hidrometeorologi itu paling sering terjadi yakni pada peristiwa banjir dengan total kejadian hingga 532 kali, kejadian puting beliung sebanyak 397 kali dan tanah longsor sebanyak 306 kali.

"Data BNPB hingga hari ini mencatat kejadian banjir sebanyak 532 kali. Kejadian angin puting beliung 397 kali, tanah longsor 306, kebakaran hutan dan lahan 123, gelombang pasang/abrasi 15, gempa bumi 5, letusan gunung api 3 dan kekeringan 1. Data kejadian bencana yang total berjumlah 1.382 kejadian," kata Raditya dalam keterangan resminya yang diterima rri.co.id, Jakarta (31/5/2020).

Dari sejumlah kategori peristiwa bencana alam yang terjadi itu, Ia mengungkapkan bahwa untuk bencana yang paling banyak menimbulkan dampak korban jiwa, yakni terdapat pada bencana banjir.

Raditya menuturkan bahwa BNPB telah mencatat sebanyak 128 jiwa dinyatakan meninggal dunia yang diakibatkan dari peristiwa alam banjir.

"Banjir juga berdampak paling tinggi terhadap kerugian, baik korban jiwa dan kerusakan material. Total korban meninggal akibat banjir berjumlah 128 jiwa, luka-luka 119 dan hilang 7. Sedangkan dampak pengungsian yang pernah terjadi, BNPB mencatat lebih dari 2 juta warga mengungsi karena banjir," tuturnya. 

Sementara untuk dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya bencana banjir yang mendominasi peristiwa sepanjang awal tahun hingga pertengahan tahun 2020 ini, menimbulkan ribuan bangunan dan fasilitas publik menjadi rusak.warga_cipinang_bali_jakarta_timur_evakuasi_barang_yang_hanyut_terbawa_arus_banjir_januari_2020_dok_rri.jpeg

Kerusakan bangunan itu kata Raditya, telah dirincikan berdasarkan kategori kerusakan berat, sedang hingga rusak ringan.

"Total kerusakan rumah akibat banjir hingga akhir Mei ini mencapai ribuan. Kerusakan rumah dengan kategori rusak berat (RB) berjumlah 2.689 unit, rusak sedang (RS) 1.218 dan rusak ringan (RR) 4.094. Kerusakan pada sektor publik sebagai berikut, fasilitas pendidikan 295 unit, peribadatan 369, kesehatan 25 dan perkantoran 46, sedangkan kerusakan infrastruktur vital berupa jembatan sejumlah 163 unit," rincinya lagi.

Untuk itu Ia meminta kepada seluruh masyarakat yang berada pada zona rawan bencana maupun untuk masyarakat yang berada di luar dari zona rawan bencana untuk tetap waspada akan kondisi iklim saat ini.

Terlebih lagi, dikatakan Raditya yakni pada saat-saat pertengahan tahun, dimana disaaat pergantian musim terjadi, potensi munculnya angin puting beliung sangat perlu diwaspadai.

"Menyikapi kondisi di wilayah nusantara, masyarakat diimbau untuk selalu waspada. Meskipun jelang pergantian musim, pada pekan terakhir Mei masih ditemui beberapa kejadian banjir. Di sisi lain, potensi angin puting beliung juga perlu diwaspadai, yang biasanya terjadi pada saat pergantian musim," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00