Puluhan Jiwa Terdampak Puting Beliung di Penajam

Anggota TNI melaksanakan kaji cepat di rumah warga terdampak angin puting beliung yang terjadi di Desa Api-Api, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (28/6). (BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara)

KBRN, Jakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melaporkan sebanyak 10 Kepala Keluarga ( KK) atau 40 jiwa terdampak angin puting beliung di Desa Api-Api, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. 

“Peristiwa itu (Selasa kemarin, Red) menyebabkan seorang warga terluka karena terkena puing bangunan yang rusak diterjang angin,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam siaran pers BNPB yang diterima rri.co.id, Rabu (29/6/2022).

Pihaknya mencatat ada 21 rumah warga mengalami rusak berat dan 8 rumah rusak ringan. Berdasarkan laporan visual, beberapa rumah mengalami kerusakan di bagian atap.

Sebagai upaya percepatan penanganan bencana angin puting beliung, pihak BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara bersama unsur TNI, Polri, instansi terkait dan pemerintah desa setempat telah mendata kerusakan di lapangan dan melakukan pembersihan puing rumah terdampak.

Sebagaimana menurut informasi prakiraan cuaca oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lanjutnya, potensi hujan sedang hingga lebat dan disertai petir masih dapat terjadi di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara hingga Jumat (1/7/2022) mendatang. Untuk itu, diimbaunya seluruh pemangku kebijakan di daerah bersama masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

Konkretnya, lanjut Abdul, melakukan upaya mitigasi seperti pemangkasan ranting, batang dan cabang pohon, pemantauan serta penertiban baliho atau papan reklame, penguatan struktur bangunan rumah dan gedung, penataan kembali kabel listrik dan jaringan komunikasi, serta memberikan sosialisasi kepada masyarakat dilakukan secara berkala.

Di samping itu, lanjutnya, untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi lainnya seperti banjir dan tanah longsor, maka upaya mitigasi seperti normalisasi sungai, susur sungai, pembersihan sungai dari sumbatan sampah, sosialisasi kepada masyarakat dan memantau perkembangan cuaca juga harus dilakukan secara rutin.

"Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng tebing dan bantaran sungai agar lebih meningkatkan kewaspadaan. Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dengan durasi lebih dari satu jam, maka diimbau agar evakuasi sementara secara mandiri ke lokasi yang lebih aman," pungkasnya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar