Buka Puasa Pertama Pengungsi di Adonara Timur

KBRN, Flores Timur: Ramadhan 1442 H menjadi tantangan bagi para penyintas di MAN Weiwerang, Adonara Timur, Flores Timur, NTT,  para penyintas harus berbuka puasa dengan kondisi keprihatinan. 

Tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa (DD) menyiapkan paket konsumsi sebanyak 100 buah untuk berbuka untuk para penyintas di pos pengungsian MAN 1 Weiwerang, Adonara Timur, Flores Timur, NTT. 

“Alhamdulillah meski kami menjalankan awal Ramadhan dengan keterbatasan, kami tetap bersyukur dengan kondisi saat ini. Bantuan terus mengalir salah satunya paket konsumsi untuk berbuka, sehingga kami tidak susah mencari paket konsumsi untuk berbuka puasa. Ditambah ada kesan tersendiri berbuka bersama para relawan yang berada di Pos Pengungsian MAN 1 Weiwerang ini,” ujar Abdul salah satu penyintas di MAN 1 Weiwerang, RAbu (14/4/2021).

“Di hari pertama Ramadhan tidak meredupkan semangat kita untuk terus mencari korban hilang yang saat ini diperkirakan masih tertimbun di antara material maupun puing-puing rumah penduduk yang tersapu oleh banjir bandang. Proses pencarian di Desa Waimatan, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur, menggunakan eskavator dan jika menemukan tanda," korban dilanjutkan dengan proses manual,” ujar Sanadi, penanggung jawab respon DMC DD.

“Hingga Selasa (13/04/2021) kami terus melakukan aksi respon bagi para penyintas di Flores Timur, kami droping torn berkapasitas 1200 Liter untuk pengungsian Kantor Desa Nele Lamawangi Kecamatan Ile Boleng, Flores Timur, NTT. Pendistribusian higienis kit dan logistik masing-masing sebanyak 150 paket, berlokasi Desa Wowong, Hulle dan Nilanapo Kecamatan Omesuri, Lembata, NTT, dengan jumlah penerima manfaat di Desa Wowong untuk Dusun 1 jumlah 39 Kepala Keluarga (KK), Dusun 2 jumlah 18 KK, Dusun 3 jumlah 23 KK, Desa Hulle jumlah 27 KK serta Desa Nilanappo jumlah 43 KK,” tambah Sanadi.

“Sementara itu dari hasil peninjauan dan pendataan sejumlah fasilitas umum, untuk Balai Desa di Desa Wowong masih terendam lumpur, kebutuhan air bersih belum ada, semua air sumur masih keruh dan bau lumpur, MCK (Mandi, Cuci, Kakus) beberapa warga terbawa banjir. Belum adanya penampungan air bersih di desa Nilanapo sehingga semua warga memakai sungai sebagai sumber air yang jauh dari pemukiman warga,” ujar Sanadi.

Hingga Rabu, (14/4/2021) cuaca cerah, aktifitas Gunung ile ape beberapa kali erupsi kecil, belum tersambung sinyal seluler di lokasi evakuasi Desa Waimatan, Kecamatan Ile Ape Timur, kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penormalan listrik masih dilakukan di beberapa titik dan sebagian ada yang belum normal listriknya dan Jembatan darurat penghubung Desa Weiburak dengan Desa Saosina sudah bisa di lalui roda empat dalam membantu distribusikan bantuan. (DNS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00