Konflik Tanah Paya Sangor, Pria Paruh Baya di Takengon Ditahan

KBRN, Takengon : Konflik di atas objek tanah milik pemerintah Aceh di kawasan Paya Sangor, kampung Kung, Pegasing, Aceh Tengah, mengharuskan pria paruh baya inisial SP, 86 tahun warga setempat, berhadapan dengan hukum. Ia ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penganiayaan. Ia diduga telah memukul kepala pria inisial WA, 55 tahun, warga kampung Kung.

Saat konferensi pers di gelar Rabu (23/12) di halaman Mapolres Aceh Tengah, SP di papah anaknya. Jalannya dibantu tongkat dari rotan.

Dalam konferensi pers itu, SP dihadirkan bersama anak perempuannya inisial MF, 32 tahun, yang juga ditetapkan sebagai tersangka atas kasus yang sama.

"Saya sedang sakit nak," katanya.

Keduanya disangkakan KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara.

Selain keduanya, konflik di Paya Sangor juga menyeret enam warga lainnya sebagai tersangka; KD, 55 tahun, RD, 48, SLM, 62 tahun, RT, 26 tahun, BR, 32 tahun dan PL, 23 tahun.

KD dan RD sudah diamankan polisi, sementara empat lainnya ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Keenam orang itu ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga telah membakar rumah milik SP, yang ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan.

Keenam tersangka itu disangkakan pasal KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

"Perkara dugaan tindak pidananya, tetap kita usut," kata Kapolres Aceh Tengah melalui Kasatreskrim AKP Ahmad Arief Senjaya dalam konferensi pers.

Kedua perkara itu telah dinyatakan lengkap oleh Jaksa. Petugas langsung menahan mereka di Rumah Tahanan Takengon, kecuali tersangka SP dengan pertimbangan usia dan sakit.

“SP tahanan dalam kota dengan pertimbangan sakit,” kata Kajari Aceh Tengah melalui Kasi Pidum Darma Mustika.

Pengacara tersangka saat ditemui rri berharap pemerintah provinsi bersikap agar konflik tanah Paya Sangor berakhir.

“Ini yang paling penting,” Kata salah seorang penasehat hukum tersangka pembakaran, Reilawati.

Sebelumnya, Majelis Adat Gayo (MAG) dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah juga mendesak pemerintah Aceh selaku pemilik untuk bersikap dan mengambil alih status tanah untuk mengakhiri konflik antar masyarakat.

"Alihkan saja ke kabupaten, kita yang kelola, aman," kata Wakil Ketua MPU Aceh Tengah, Tgk. Amri Jalaluddin.

Rabu ketiga Oktober 2020, dua kelompok masyarakat di Paya Sangor, kampung Kung bertikai hingga jatuh korban dan pembakaran rumah. Tersangka di masing-masing kelompok itu saat ini harus mendekam di sel jeruji besi. Termasuk pria paruh baya inisial SP, 86 tahun yang juga terancam ikut menyusul.

Sementara Aceh Nova Iriansyah saat berkunjung ke Takenogn Jumat (28/8) mengaku objek tanah sengketa itu kewenangan kabupaten dan diserahkan penyelesaiannya kepada Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar. Saat kunjungan kala itu, Nova masih berstatus sebagai pelaksana tugas Gubernur.

Begitupun, penyelesaian konflik itu akan dirembuk bersama dengan mengedepankan ketentuan yang ada. Terlebih, Nova menyakini setiap konflik ada jalan keluarnya. Ia juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan objek tanah itu diserahkan kepada masyarakat.

“Kalau itu yang terbaik, kenapa tidak,” katanya

Teks Foto : Tiga kerangka sepeda motor milik tersangka penganiayaan inisial SP, 86 tahun yang diduga dibakar oleh enam tersangka dari kelompok masyarakat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00