Kekerasan Seksual Terhadap Anak Marak, Aktivis Perempuan di Aceh Dorong Penerapan Perpu Kebiri

KBRN, Takengon : Aktivis perempuan di Bener Meriah, Aceh dorong penegak hukum terapkan Perpu kebiri terhadap pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

Dorongan itu disampaikan Ketua Perkumpulan Umah Sunting Pirak (PUSP), Reilawati kepada rri, Kamis (16/12/2020).

Dorongan itu disampaikan Reilawati pasca polisi kembali mengamankan pria inisial PH, 36 tahun, warga kecamatan Bukit, Bener Meriah yang diduga mencabuli anak kandungnya sendiri yang masih di bawah umur.

“Kasus ini memprihatinkan di daerah kita,” katanya

PUSP kata Reilawati, salah satunya konsen mendampingi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dari sejumlah perkara yang didampingi hematnya, penegak hukum di Bener Meriah belum pernah menerapkan Perpu kebiri terhadap terdakwa.

Penegak hukum sebut Reilawati, kerap menggunakan Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat.

“Meskipun ada beberapa fakta hukuman yang dijatuhkan terhadap terdakwa sampai 18 tahun, tapi kasusnya terulang,” ujarnya.

Karenanya menurut Reilawati, penerapan Perpu kebiri cukup berdasar diterapkan untuk memberi efek jera kepada pelaku.

Ia juga mengajak para pakar hukum di tanah air untuk menyatukan suara mendorong penegak hukum untuk menerapkan Perpu kebiri terhadap terdakwa kekerasan seksual terhadap anak.

Pertengahan Oktober 2016, DPR RI telah mengesahkan Peraturan pemerintah pengganti Undang-undang atau disebut Perpu kebiri nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas uu 23/2002 tentang perlindungan anak.

Hingga berita ini terbit, rri belum mendapat data jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak yang didampingi TP2TP2A Bener Meriah.

Teks Foto : Pria inisial PH, 36 tahun, warga kecamatan Bukit, Bener Meriah yang diduga mencabuli anak kandungnya diamankan polisi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00