Jaksa Tahan Mantan Bendaharan DSI Aceh Tengah

KBRN, Takengon : Jaksa tahan mantan Bendahara Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Aceh Tengah inisial AY, 34 tahun di Rutan Takengon, Jumat (18/9). Tersangka AY ditahan selama 20 hari kedepan. Proses penahanan AY didampingi kuasa hukumnya. AY ditahan lantaran diduga telah menggelapkan Rp398 juta dana insentif untuk 1.259  guru Tempat Pengajian Anak (TPA) tahun anggaran 2019. Dugaan penggelapan itu semakin menguat setelah adanya hasil audit dari Inspektorat setempat.AY disangkakan pasal 3 dan 8 UU Tipikor dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Kajari Aceh Tengah Nislianuddin mengaku pihaknya sedang merampungkan berkas perkara untuk dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor di Banda Aceh.

Dalam perkara ini kata Kajari, ada 20 saksi yang dimintai keterangan. Petugas katanya, juga terus melakukan pengembangan, tidak menutup kemungkinan adanya tersangka baru. Jaksa kata Kajari, juga telah menyita aset tersangka; dua petak tanah dan satu unit rumah. Jika tersangka tidak mengembalikan uang negara, maka aset itu akan dilelang untuk menutup kerugian negara.

“Bulan depan kita usahakan sudah bisa sidang,” kata Kajari.

Kuasa hukum AY, Sasmindra mengaku kliennya kooperatif selama proses pemeriksaan. Kendati sudah dijadikan tersangka kata Sasmindra, pihaknya akan melihat proses penyidikan lanjutan yang dilakukan jaksa. Untuk membuktikan kebenarannya kata Sasmindra, akan terungkat di tingkat Pengadilan.

Tersangka AY mengaku dana Rp398 juta itu turut dinikmati Kepala Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Aceh Tengah atas nama Mustafa Kamal sebesar Rp150 juta. Dana itu diserahkan tiga tahap. Uang itu kata tersangka AY, diserahkan pada Oktober, November dan Desember 2019. Tersangka AY juga mengaku, dana itu sebagian dipergunakan untuk membeli keperluan dinas yang tidak dialokasikan dalam anggaran, selebihnya uang itu digunakan untuk keperluan pribadi.

Kadis Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Aceh Tengah Mustafa Kamal ditemui wartawan membantah tudingan itu. Mustafa Kamal merasa difitnah oleh tersangka AY. Padahal kata Mustafa, sebelum perkara itu masuk keranah hukum, pihaknya sudah beritikat baik dengan meminta AY mengembalikan dana insentif guru TPA tersebut. Upaya mediasi itu kata Mustafa Kamal, dilakukan dua kali, namun tidak membuahkan hasil. Pasca tersandung perkara ini, Mustafa Kamal mengaku telah memberhentikan AY dari jabatannya sebagai bendahara pada Desember 2019.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00