Menikmati Panen Durian di Desa Kekuyang, Ketol, Aceh Tengah

KBRN, Takengon: Musim durian di Aceh Tengah dan Bener Meriah tahun ini mulai berlangsung sejak desember 2019 sampai dengan saat ini, Maret 2020.

Rasanya, tidak lengkap jika menyantap durian tidak langsung dari kebunnya. Tim RRI Takengon kali ini berkunjung ke desa Kekuyang, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah untuk melihat potensi budidaya tanaman durian di daerah tersebut.

Untuk menuju ke desa Kekuyang, membutuhkan waktu 10 sampai 20 menit dari Kantor Camat Ketol yang berada di desa Simpang Empat Rajawali.

Akses menuju lokasi juga tidak sulit, karena jalan baru saja dilakukan pengaspalan, walau di beberapa titik masih ada jalan yang belum tersentuh aspal baru.

Kami bersama Kepala Desa Kekuyang, Ramli dituntun dari kantor Camat hingga sampai di desa yang sudah tergolong panas untuk perkiraan cuaca di Aceh Tengah yang terkenal dengan daerah sejuk.

Setibanya di rumah Reje, kami disambut dengan buah berduri dan memiliki aroma tajam tersebut.

Sembari berkenalan dan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan, sang pemilik wilayah juga tampak menyibukkan diri dengan parang ditangan kanannya sembari memutar buah berwarna kekuningan dan menghunamkan parang ke buah durian yang disukai banyak orang itu.

Satu persatu buah disajikan lengkap dengan kulitnya di hadapan kami, kamipun langsung melahapnya sesaat setelah dipersilahkan untuk mencicipi hasil bumi yang ditanam sejak puluhan tahun silam.

Tidak cukup puas disitu saja. Sang Kepala Desa menggiring kami untuk menuju ke salah satu perkebunan durian milik warga setempat.

Butuh waktu kurang dari 10 menit untuk tiba di kebun durian yang juga ditanam tanaman seperti kopi, alpukat, langsat dan tanaman muda lainnya seperti cabai.

Pemilik kebun, Samsuddin Sidik, mengaku, jika pesta durian tahun ini tidak semeriah kurun waktu 5 tahun terakhir.

“Tahun ini kalau dari segi bunga kemarin luar biasa. Tetapi lengketnya, itu yang mohon petunjuk dari dinas. Hama dari mulai kelelawar, itu kek mana cara usirnya, terus setelah bunga monyet juga hama, terus babi, kalau udah panen, babi pun doyan. Itu kami mohon solusi dari dinas kek mana solusi atasi hama dan bunga biar lengket,” ujar petani durian desa Kekuyang, Samsuddin Sidik.

Diakui pemilik kebun durian di Kekuyang, belum banyak masyarakat dari luar daerah berkunjung langsung dan menikmati durian di kebun durian di daerah tersebut. Hal itu pula yang mengharuskan petani memilih menjual durian kepada pengepul yang berdatang ke lokasi kebun durian.

Mau tidak mau, suka tidak suka, petani durian menjual buah durian kepada pengepul, bahkan tidak jarang dibandrol dengan harga murah.

“Ini yang kami harapkan. Kami pemasaran enggak nentu. Banyak durian, semua panen harga itu kadang-kadang seadanya. Jadi kami inginkan pemasarannya, kek mana caranya. Kalau memang ada cara ya kek mana, biar ada meningkatkan hasil ekonomi petani durian ini. Kadang ada yang datang beli, kadang-kadang kami petani sendiri yang bawa ke kota,” timpalnya lagi.

Kepala Desa atau Reje Kekuyang, Ramli menyampaikan akses jalan tidak sulit untuk sampai di desa Kekuyang. Hanya saja peran semua pihak dibutuhkan untuk membantu masyarakat pedalaman dalam meningkatkan ekonomi.

“Sudah lumanya jalan, enggak kayak beberapa tahun kebelakang. Tinggal mengeluarkan hasil dari kebun masyarakat, ini yang agak sikit kesulitan karena enggak bisa dilalui kendaraan roda dua. Durian ini memang luar biasa disini. Cuman itu tadi jalan ke kebun. Harapanya ya petani pembuatan jalan produksi ke kebun-kebun untuk memudahkan keluarkan hasil pertanian. Kami harapkan Dinas Pertanian atau Dinas terkait,” ujar Kepala Desa Kekuyang, Ramli.

Berburu wisata durian kami semakin terasa special, tatkala, Camat Ketol Hardi Selisih Mara turut menyusul kami untuk melihat secara dekat potensi desa Kekuyang.

Dia menyampaikan, bahwa perlu upaya untuk menarik penikmat durian ke daerah tersebut melalui sejumlah event atau kegiatan.

Tentu saja, perlu campur tangan dari semua pihak untuk memperkenalkan potensi Ketol.

“Kawasan kita yang besar ini, kita hari ini gagasi bagaimana ini bisa jadi daerah wisata, apakah itu wisata durian dan lain-lain. Kita rencanakan promosikan wilayah ini apakah itu kontes atau festival durian, mengenalkan wilayah sehingga nanti wilayah ini akan menjadi daerah wisata, khusus wisata bagaimana makan durian langsung dibawah pohon durian sambil menikmati pemandangan dan buah-buahan yang lain. Ada bisa diborong cabai, cokelat, tomat, bawang dan lain-lain,” sebutnya.

Sembari menikmati buah durian yang baru saja jatuh dari pohonnya, Hardi juga menyampaikan perlu peran serta sejumlah instansi terkait dalam membantu masyarakat meningkatkan produktifitas durian dan pengelolaan durian dengan tujuan akhir meningkatkan perekonomian petani atau masyarakat.

“Kita juga mohon dibantu dinas terkait, diantaranya Dinas Perindustrian karena ini usaha bagaimana mengembangkan ekonomi kreatif masyarakat. Selama ini kita hanya bisa menjual buah durian, kita belum bisa dalam bentuk makanan yang lain. Ini sangat kita harapkan,” demikian Hardi.

Tidak terasa perjalanan berburu durian kami kali ini telah menghantarkan matahari menyingsing ke barat. Itu artinya sore hari telah tiba, dan saatnya kami untuk kembali.

Dengan membawa harapan dan keinginan masyarakat petani durian di Kekuyang, Kecamatan Ketol agar mendapat perhatian dan tindak lanjut dari pemerintah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00