Hari Santri Nasional, ini kata Rektor IAIN Takengon

Rektor IAIN Takengon, Zulkarnain

KBRN, Takengon: Santri identik dengan para salik, hari siang dan malamnya berjalan menapaki kearifan, penguatan diri untuk penguatan kecerdasan spiritual, emosional, sosial, finansial, manajerial serta kecerdasan lainnya, dengan itu semua mewujud identitas dirinya sebagai hamba Allah, sekaligus khalifah Allah.

Mempersiapkan diri menjadi santri sejati di era digitalisasi tentu membentangkan sejumlah tantangan.

Tantangan itu terkadang berimplikasi dalam tipologi pesantren saat ini (salaf, modern terpadu) menjadi alternatif pilihan. 

Selain itu tantangan kharismatik kemudian lembaga (ulama) pesantren semakin dikritisi dan kini sudah seperti telur diujung tanduk.

Penyebabnya antara lain media sosial acap digunakan minus etik dan estetik oleh para pengiat media sosial, baik karena motif tertentu atau hanya menjadi mesin penyebar berita. 

Santri dan pesantren kini laksana berada dalam aquarium, teramati oleh semua mata digital.

Maka pondasi yang harus dikuatkan adalah tata kelola, sumber daya manusia serta muatan pembelajaran dinamis.

Tantangan lainnya adalah lembaga tempat santri berada belum sepenuhnya mandiri secara finansial. 

Oleh karena itu acap terjadi klasifikasi input calon santri berdasar kemampuan wali santri.

Pilihan murah, apa adanya, atau pilihan lembaga yang lebih dari itu. 

Untuk itu landasan legal formal (UU Ponpes) menjadi standar rujukan kemandirian yang harus segera direspon oleh pengelola santri.

Santri pengawal peradaban

Rektor IAIN Takengon, Zulkarnain.

Rel.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00